Langsung ke konten utama

Postingan

Susah Sinyal

Tahun produksi: 2017
Sutradara: Ernest Prakasa
Pemain: Ardinia Wirasti, Asri Welas, Ernest Prakasa
Genre: Komedi

CERITA:  Terus terang mengada-ada banget ya. Entah karena komedi atau apa, kurang realistis lah. Masa iya ada anak gak harmonis hubungan bertahun-tahun dengan orang tuanya, tapi tetap tinggal serumah seolah gak ada masalah. Ya kalo setahun dua tahun. Lah ini bertahun-tahun. Non sense. Hehehe.. Dan tetiba, anak kabur dari rumah berlibur ke Flores seorang diri. Sampe akhirnya harmonis lagi dengan sang ibu di akhir cerita. Itu pun maksa akurnya, diem bertahun-tahun tentang perceraiannya eh cuma butuh gak sampe 5 menit untuk jujur dan that's it. End of the story. Filmnya gak bikin ngantuk sih, kadang bikin ketawa, cuma beberapa adegan terkesan lebay juga. Reporter gosip, tamu hotel, dll. Jadi kita bingung ini lebih ke komedinya apa dramanya yang mau diangkat. Satu lagi.. Sewaktu nonton serasa lagi nonton film Blended (2014) karena ada beberapa yang mirip inti adegannya.
MOMEN TER…
Postingan terbaru

Zaman Now

Hari-hari ini kerap terdengar bahwa kita tengah memasuki Era Disruptif, VUCA, The Fourth Wave, The Internet of Things, era dimana perubahan cepat sekali terjadi hampir di semua sendi kehidupan. Adalah fakta bahwa saat tulisan ini dibuat, China yang notabene sebuah negara komunis sudah mengambil alih posisi Jepang sebagai negara kedua dengan tingkat ekonomi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Di saat bersamaan, China bahkan merupakan negara eksportir terbesar yang menyuplai kebutuhan hampir seperlima populasi dunia. Sebanyak 70% transaksi pembayaran di negara ini dilakukan secara online khususnya di kota-kota besar. The Rise of Asia, demikian para pengamat menyebutnya, dimana pengaruh barat mulai menurun secara signifikan dalam kancah perekonomian global.

Kita juga menyaksikan terjadinya gelombang perubahan politik yang sangat masif di berbagai negara, dari rezim-rezim otoriter menuju demokrasi. Bermula dari Tunisia, yang terkenal dengan sebutan Arab Spring, merambah ke berbaga…

Nilai Budaya

Kalau anda bertemu dengan seorang sarjana di perusahaan kita, mungkin dia adalah seorang staff atau supervisor. Kalau anda bertemu dengan seorang magister di perusahaan kita, mungkin dia adalah seorang manager, general manager, atau bahkan seorang direktur. Tapi kalau anda bertemu dengan seseorang di perusahaan kita, yang walaupun hanya tamatan SD saja, namun jujur, melayani, profesional, dan tulus, maka tak salah lagi dia adalah owner dari perusahaan kita. Demikian ujar Teddy Rachmat, sang Jack Welch nya Indonesia, di dalam berbagai kesempatan.

Orang yang mendengarkannya tentu paham. Yang dimaksud beliau adalah bahwa budaya, nilai-nilai perusahaan yang dijunjung tinggi, harus tampak pada perilaku karyawan, tak peduli apapun gelar akademiknya. Dan bagaimana semua karyawan dapat berperilaku sesuai nilai-nilai perusahaan, itu jauh lebih penting daripada sekedar berkumpul bersama, beraktifitas bersama, sibuk bersama setiap hari mencapai tujuan, namun tidak dilandaskan pada nilai-nilai yan…

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…

Sesembahan Insan

Tidak mungkin selama hidupnya seseorang itu atheist. Tidak percaya tuhan. Tidak logis. Bahkan bila ada yang berkata aku tidak percaya dengan sesuatu apapun di dunia ini, maka pernyataannya ini juga sesuatu hal yang kontradiktif. Ia harus bisa membuktikan bahwa betul-betul tidak ada lagi yang ia percayai di dunia ini. Padahal, setidaknya, ia masih percaya dengan isi pernyataannya sendiri tersebut. Jadi sungguh tidak masuk akal pernyataan seperti ini. Tidak logis.

Dan tuhan itu, ilah dalam bahasa arab, tak otomatis berarti merujuk pada The Creator of The Universe. Bang Imad dalam bukunya yang terkenal "Kuliah Tauhid" menjelaskan, dalam quran surah Al-Jatsiyah ayat 23, surah Al-Furqan ayat 43, dan surah Al-Qashash ayat 38 misalnya, tuhan, sesembahan, yang dipercayai; itu bisa berarti hawa nafsu, keinginan pribadi, bahkan seperti seorang Firaun, tuhan itu adalah dirinya sendiri, seorang manusia biasa yang mengganggap dirinya tuhan. Karenanya, tuhan bisa didefinisikan sebagai seg…