Langsung ke konten utama

Postingan

Zaman Now

Hari-hari ini kerap terdengar bahwa kita tengah memasuki Era Disruptif, VUCA, The Fourth Wave, The Internet of Things, era dimana perubahan cepat sekali terjadi hampir di semua sendi kehidupan. Adalah fakta bahwa saat tulisan ini dibuat, China yang notabene sebuah negara komunis sudah mengambil alih posisi Jepang sebagai negara kedua dengan tingkat ekonomi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Di saat bersamaan, China bahkan merupakan negara eksportir terbesar yang menyuplai kebutuhan hampir seperlima populasi dunia. Sebanyak 70% transaksi pembayaran di negara ini dilakukan secara online khususnya di kota-kota besar. The Rise of Asia, demikian para pengamat menyebutnya, dimana pengaruh barat mulai menurun secara signifikan dalam kancah perekonomian global.

Kita juga menyaksikan terjadinya gelombang perubahan politik yang sangat masif di berbagai negara, dari rezim-rezim otoriter menuju demokrasi. Bermula dari Tunisia, yang terkenal dengan sebutan Arab Spring, merambah ke berbaga…
Postingan terbaru

Nilai Budaya

Kalau anda bertemu dengan seorang sarjana di perusahaan kita, mungkin dia adalah seorang staff atau supervisor. Kalau anda bertemu dengan seorang magister di perusahaan kita, mungkin dia adalah seorang manager, general manager, atau bahkan seorang direktur. Tapi kalau anda bertemu dengan seseorang di perusahaan kita, yang walaupun hanya tamatan SD saja, namun jujur, melayani, profesional, dan tulus, maka tak salah lagi dia adalah owner dari perusahaan kita. Demikian ujar Teddy Rachmat, sang Jack Welch nya Indonesia, di dalam berbagai kesempatan.

Orang yang mendengarkannya tentu paham. Yang dimaksud beliau adalah bahwa budaya, nilai-nilai perusahaan yang dijunjung tinggi, harus tampak pada perilaku karyawan, tak peduli apapun gelar akademiknya. Dan bagaimana semua karyawan dapat berperilaku sesuai nilai-nilai perusahaan, itu jauh lebih penting daripada sekedar berkumpul bersama, beraktifitas bersama, sibuk bersama setiap hari mencapai tujuan, namun tidak dilandaskan pada nilai-nilai yan…

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…

Sesembahan Insan

Tidak mungkin selama hidupnya seseorang itu atheist. Tidak percaya tuhan. Tidak logis. Bahkan bila ada yang berkata aku tidak percaya dengan sesuatu apapun di dunia ini, maka pernyataannya ini juga sesuatu hal yang kontradiktif. Ia harus bisa membuktikan bahwa betul-betul tidak ada lagi yang ia percayai di dunia ini. Padahal, setidaknya, ia masih percaya dengan isi pernyataannya sendiri tersebut. Jadi sungguh tidak masuk akal pernyataan seperti ini. Tidak logis.

Dan tuhan itu, ilah dalam bahasa arab, tak otomatis berarti merujuk pada The Creator of The Universe. Bang Imad dalam bukunya yang terkenal "Kuliah Tauhid" menjelaskan, dalam quran surah Al-Jatsiyah ayat 23, surah Al-Furqan ayat 43, dan surah Al-Qashash ayat 38 misalnya, tuhan, sesembahan, yang dipercayai; itu bisa berarti hawa nafsu, keinginan pribadi, bahkan seperti seorang Firaun, tuhan itu adalah dirinya sendiri, seorang manusia biasa yang mengganggap dirinya tuhan. Karenanya, tuhan bisa didefinisikan sebagai seg…

Masa Sulit

Di perjalanan commuter line baru-baru ini saya bertemu 2 sahabat baru. Yang satu, sarjana UI, 32 tahun, baru terkena PHK, perusahaan tambang batu bara. Saat itu dia tengah menuju kawasan SCBD guna memprospek seorang nasabah asuransi. Selama 'nganggur', agen polis asuransi menjadi pilihannya. Yang satu nya lagi, sarjana UGM, 28 tahun, juga baru terkena PHK, perusahaan perkebunan sawit. Saat itu sedang menuju perkantoran di MH Thamrin untuk sebuah interview kerja. Gaji turun pun tak mengapa katanya.

Trenyuh, tersentuh, tapi bagaimana. Di kantor saya yang sekarang, perusahaan pun sedang menerapkan Zero Pro Hire. Ekonomi sedang sulit, efisiensi dimana-mana. Hanya info nama-nama head hunter, executive search, recruitment agency, dsb yang bisa saya berikan. Dan sebuah doa, tentu saja. Semoga mereka berdua selalu sehat, sukses, bahagia.


Kalau film "The Company Men" mengajarkan untuk mengontrol apa yang bisa kita kontrol, mempengaruhi apa yang tidak bisa kita kontrol, dan be…

Empati Prabowo

Banyak yang tanya mengapa Prabowo. Alasan saya sederhana saja. Waktu itu akhir tahun 2008. Saat itu saya masih bekerja di Arbe Styrindo, sebuah perusahaan B2B Petrokimia yang pabriknya berlokasi di Cilegon, Banten. Saya berkantor di Jakarta beserta unit G&A lainnya tepatnya di Sampoerna Strategic Square.
Tahun-tahun itu partai Gerindra banyak beriklan di TV. Tidak sekalipun saya simpatik. Saya juga dengar pimpinannya Pak Prabowo adalah aktor intelektual kerusuhan mei 98, dalang penculikan mahasiswa, pernah lari ke Yordania, dsb. Tapi dalam salah satu kunjungan saya ke pabrik kami waktu itu, pandangan saya berubah perlahan. Kepala Security pabrik kami yang cukup berumur, Pak Agus, suatu kali menceritakan tentang Komandannya, Jenderal Prabowo. Kebetulan Pak Agus adalah salah satu pensiunan prajurit TNI yang pernah mengenal, melihat, dan merasakan langsung kepemimpinan Sang Jenderal.
Pak Prabowo dalam pandangan Pak Agus adalah sosok yang berani dan peduli kepada anak buahnya. Kalo P…

Mesin Pencapaian (1)

Di masa awal pemerintahannya, seorang presiden memutuskan untuk menggabungkan kementerian A dan kementerian B menjadi sebuah kementerian baru, yakni kementerian AB. Fungsi dan peran masing-masing kementerian yang semula berbeda kini disamakan. Jajaran pimpinan yang semula dimiliki oleh masing-masing kementerian A dan kementerian B, secara otomatis menjadi satu jajaran pimpinan saja. Pun demikian halnya para pegawai, semuanya berganti nama jabatan, golongan kepangkatan, unit organisasi, pola pelaporan, dan sistem kerja. Kendaraan dinas, seragam kerja, cap stempel, kops surat, website content, administrasi birokrasi, dll. yang berhubungan dengan atribut organisasi, juga menggunakan satu identitas baru yang sama yakni kementerian AB.
Tak lama berselang, presiden memutuskan kembali untuk memisahkan kementerian AB ke dalam 3 kementerian berbeda, yaitu masing-masing kementerian A, kementerian B, dan kementerian C. Proses perubahan yang besar pun kembali bergulir di setiap aspek organisasi.…