Langsung ke konten utama

Keberhasilan Paripurna

Doa adalah inti ibadah. Demikian satu dari sekian sabda nabi Muhammad saw. yang pernah diriwayatkan oleh sahabat. Walaupun riwayatnya lemah, namun hikmah yang terkandung di dalamnya tak mengurangi sedikitpun niat kita untuk tidak mengambil pelajaran atasnya.

Berdoa dapatlah didefinisikan sebagai aktifitas dalam memohonkan sesuatu yang diinginkan, sesuatu yang diharapkan, yang dinantikan untuk terjadi, yang masih bersifat probabilitas. Dengan demikian, merupakan arah yang dituju oleh seseorang. Sesuatu yang dicari, dikejar, diperjuangkan, alasan untuk keberadaannya, sebuah makna kehidupan.

Di dalam Al-Quran surat Al-Mukminuun ayat 115 dan Al-Baqarah ayat 156 dijelaskan bahwa hakikat makna hidup itu adalah untuk kembali kepada Tuhan. Atau di dalam syair Goenawan Mohammad, kita ini berharap dan bukannya mengharap. Dan karenanya, tidaklah ada satupun yang kekal di dunia ini, semuanya hanyalah sementara. Tsunami, gempa bumi, angin topan, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, kebakaran, dan berbagai tragedi alam mengerikan lainnya, cukuplah menjadi renungan yang mendalam untuk merendahkan ego dihadapan-Nya. Bahwa manusia sesungguhnya hanyalah berasal dari setetes air yang hina dan bahwa jasadnya kelak akan habis dimakan ulat.

Dan harapan adalah energi penggerak kehidupan. Tanpa harapan, cita-cita, dan impian, tidaklah lengkap sebuah kehidupan. Hampa, tak berarti, dan percuma. The power of dreams ujar sebagian orang. Seeing is believing ujar sebagian yang lain. Maka, ada banyak orang yang berharap untuk dapat lulus sekolah dan kemudian akhirnya mendapatkan gelar akademik, berkarir di sebuah perusahaan dengan bidang yang diminati hingga akhirnya menjadi direktur, menikah dengan kekasih hingga akhirnya memiliki keluarga yang saling mencintai, memiliki rumah mewah, memiliki koleksi mobil mewah, memiliki pesawat pribadi, memiliki rekening tabungan dengan saldo tak terbatas, berkeliling dunia, tinggal dan menetap di sebuah pulau pribadi, kebal diplomatik, mendapat hadiah nobel atau pulitzer, menjadi seorang profesor, menjadi jenderal, menjadi presiden, menjadi pebisnis terkemuka, menjadi selebritis dunia, menjadi konglomerat, menjadi some one that has something, meraih kesuksesan hidup.

Tak sedikit, ada pula yang berharap untuk dapat memerdekakan tanah airnya yang masih terjajah, mengasingkan diri di pedalaman dan menjadi sukarelawan sosial, menjadi aktifis lingkungan hidup, menjadi pejuang demi tertegaknya demokrasi dan hak asasi manusia, menjadi seorang syuhada untuk kebenaran, menjadi juru selamat bagi mereka yang membutuhkan, menjadi pembela bagi kaum yang termarjinalkan, menekuni dunia riset teknologi, berbuat sesuatu yang besar, menjadi some one that makes history, terus mencoba mengubah dunia, walau tiada popularitas, tanpa tanda penghormatan, ataupun keberlimpahan materi.

“Dan kalau saja aku tidak gila, maka Indonesia tidak akan pernah merdeka”. Bung Karno demikian pernah berujar. Karena memang terkadang pada umumnya, untuk sebuah harapan, apapun makna, bentuk, dan rupanya, cepat atau lambat perkiraan waktu meraihnya, mulus atau sukar, serta lurus atau berkelok-kelok jalan melaluinya, kesuksesan yang sesungguhnya, terletak pada usaha, pada kerja, pada totalitas, dan sebuah perjuangan yang menggila. Dengan keyakinan yang kuat, tekad membaja, kerja keras dan cerdas, serta komitmen yang relatif stabil, Anthony Robbins bahkan dengan berani mengatakan bahwa the past does not equal the future, masa lalu tidak akan pernah sama dengan masa depan.

Tetapi, kadang kala, ketika sudah sampai di puncak gunung yang dituju, banyak orang baru menyadari bahwa ternyata, alangkah rendahnya gunung yang selama ini ia daki bila dibandingkan dengan gunung lain di sekitarnya. Dan jangankan gunung, di atas langit yang tinggi, pun ternyata masih banyak lagi langit yang lain dalam semesta yang tak berhingga ini.

Maka, diantara sekian pilihan yang dapat diambil dalam hidup ini, tiada lain adalah berusaha untuk mensyukuri limpahan nikmat karunia-Nya atas seluruh perjalanan yang selama ini telah tertempuh. Untuk kemudian, kembali berjalan dengan penuh kebahagiaan.

Dan dengan dilandasi keinginan yang mendalam untuk berbagi kepada semua rekan dan sahabat, selamat melanjutkan perjalanan, apapun dan kemanapun arah yang dituju, tapi tentu, pasti, dan semoga, tak pernah lupa pada kampung halaman.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Opsi Strategi

Dalam persaingan di bidang apapun terdapat juara, the number one, yang mutlak mengungguli semua pesaingnya. Mulai dari kejuaraan sekolah, pertandingan olahraga, persaingan bisnis, pemilihan umum, perang militer, hingga indeks peringkat negara di dunia seperti Human Development Index atau Global Competitiveness Index, semuanya menggambarkan dengan jelas, bahwa memenangkan persaingan berarti meraih keberhasilan, mencapai suatu hal yang relatif penting dan bernilai sebagai tujuan. Cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan ini disebut dengan strategi, sebuah game plan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Strategi, dengan demikian berfokus kepada tujuan penting dan bernilai yang ingin dicapai (goal-oriented), bercerita tentang masa depan dan bukan masa lalu (future-oriented), serta merupakan langkah yang akan ditempuh secara disiplin dan konsisten (action-oriented).
Prinsip-prinsip ini secara umum adalah sama penerapannya di semua aspek kehidupan. Mulai dari strategi Gerilya Pa…

Empati Prabowo

Banyak yang tanya mengapa Prabowo. Alasan saya sederhana saja. Waktu itu akhir tahun 2008. Saat itu saya masih bekerja di Arbe Styrindo, sebuah perusahaan B2B Petrokimia yang pabriknya berlokasi di Cilegon, Banten. Saya berkantor di Jakarta beserta unit G&A lainnya tepatnya di Sampoerna Strategic Square.
Tahun-tahun itu partai Gerindra banyak beriklan di TV. Tidak sekalipun saya simpatik. Saya juga dengar pimpinannya Pak Prabowo adalah aktor intelektual kerusuhan mei 98, dalang penculikan mahasiswa, pernah lari ke Yordania, dsb. Tapi dalam salah satu kunjungan saya ke pabrik kami waktu itu, pandangan saya berubah perlahan. Kepala Security pabrik kami yang cukup berumur, Pak Agus, suatu kali menceritakan tentang Komandannya, Jenderal Prabowo. Kebetulan Pak Agus adalah salah satu pensiunan prajurit TNI yang pernah mengenal, melihat, dan merasakan langsung kepemimpinan Sang Jenderal.
Pak Prabowo dalam pandangan Pak Agus adalah sosok yang berani dan peduli kepada anak buahnya. Kalo P…

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…