Langsung ke konten utama

Marhaban Ya Ramadhan

Do u really believe in God? Apakah kita benar percaya kepada Tuhan?

Al Quran mengisahkan kalau Nabi Ibrahim pernah secara ikhlas mematuhi perintah Allah untuk menyembelih anaknya Ismail yang amat dicintainya, yang kemudian digantikan dengan seekor kibas. Rasulullah saw. sepanjang sejarahnya memperjuangkan ajaran agama, rela untuk diludahi, dilempari batu dan kotoran hewan, difitnah, diusir dari kampung halaman, bahkan melewati beberapa usaha pembunuhan, hingga peperangan. Seorang rekan di sela-sela kesibukannya, menyempatkan diri untuk menghapal Al Quran 30 juz dan berusaha mendalami beragam tafsirnya untuk dakwah islam di masa depan.

Bagi mereka yang rasional, agama tak lain hanyalah perlambang status sosial baik untuk bersosialisasi hingga urusan kependudukan. Saya seorang theis, saya beriman kepada Tuhan. Titik. Tetapi seorang rekan, CEO sebuah MNC di bidang farmasi dengan tegas mengatakan “I don’t believe in God, I’m a logic” dan tak pernah menganut suatu agamapun hingga kini.

Kejadian demi kejadian di bumi ini tak lain hanyalah pukul rata statistik saja. Nalar manusia sanggup mencerna segala sesuatu. Stephen Hawking, fisikawan ternama, Lucasian Professor of Mathematics in Cambridge seperti Newton, dalam karya panjangnya A Brief History of Time, secara implisit menyangkal keberadaan Tuhan yang personal. Tuhan yang masyarakat biasa sembah, hanya mungkin ada di dalam ide karena alam berjalan dalam hukum universal fisika. Sebuah mobil yang kehabisan bensin tak kan mampu dikendarai berjalan walau didoakan semalam suntuk. Komputer yang terkena virus hanya bisa diatasi dengan anti virusnya. Seorang pasien yang menderita penyakit kronis, mampu dinyatakan kesembuhannya kelak oleh tim dokter yang menangani. Bahkan pusat-pusat penelitian mengemukakan mampu memprediksi berapa lama lagi bumi masih akan berputar.

Tetapi, kadang kala yang rasional menjadi irrasional. Sebuah pesawat yang sudah dinyatakan layak terbang, pilot dalam keadaan sehat, dan cuaca cerah, selang beberapa detik setelah mendarat, tiba-tiba terbakar meledak hingga akhirnya menelan korban ratusan orang. Ada juga kisah nyata tentang gunung berapi yang diprediksi akan meletus. Statuspun dinyatakan siaga satu. Tim relawan disiapkan, evakuasi serentak dilakukan. Sampai-sampai presidenpun turun tangan. Pada hari-hari dimana diprediksi akan terjadi letusan, sebuah gempa berkekuatan tinggi terjadi di bawah permukaan laut. Korbanpun berjatuhan dan gunung berapi tak pernah terbukti meletus dahsyat. Belum lagi kisah tentang satu-satunya pilot yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat sedang penumpang lainnya mati seketika saat itu juga. Atau kisah tentang ditemukannya seorang bayi dalam keadaan hidup walau tertimpa puing reruntuhan gempa selama tujuh hari. Atau para penderita kanker yang kemudian sembuh total tanpa intervensi medis sedikitpun, dan sederet kisah nyata lainnya.

Membaca, melihat, mendengar hal-hal seperti ini, tentu ada yang bergetar di dalam diri. Bahwa tidaklah mungkin alam semesta beserta segala isinya ini tercipta dan berjalan begitu saja. Bumi yang kita pijak saat ini hanyalah noktah kecil diantara milyaran galaksi, apalagi diri kita sendiri. Lapis-lapis kehidupan yang kita pahami beserta segenap pengetahuan yang kita miliki, hanyalah sekelumit dari rahasia alam semesta. Ada banyak hal yang tak terjangkau oleh nalar namun mampu kita rasakan. Hingga dari sekian probabilitas, termaktub adanya bahwa bumilah yang mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya.

Maka, tentu diri ini merindu, menghamba, tunduk, dan berserah diri pada-Nya. Kepada Tuhan, kepada Allah. Yang menciptakan, menggerakkan, memelihara alam raya seisinya, betapa luas, betapa megah, betapa besar, betapa indah. Sungguh sia-sia semua kesibukan yang dilakukan sejak pagi hingga malam, kecuali hanya tertuju kepada-Mu. Sepanjang apapun perjalanan yang telah tertempuh, sebanyak apapun kisah hidup yang terjalani, akhirnya harus berpulang lagi pada-Mu. Kami ridha akan Engkau sebagai Tuhan hidup kami, dan segenap ajaran Islam sebagai jati diri kami, serta Muhammad sebagai nabi dan rasul-Mu. Walaupun mungkin, memang, iman kami, tentu tak seperti halnya Ibrahim, Rasulullah, atau rekan penghapal Quran, kembali kami bersimpuh di hadapan-Mu ya Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Empati Prabowo

Banyak yang tanya mengapa Prabowo. Alasan saya sederhana saja. Waktu itu akhir tahun 2008. Saat itu saya masih bekerja di Arbe Styrindo, sebuah perusahaan B2B Petrokimia yang pabriknya berlokasi di Cilegon, Banten. Saya berkantor di Jakarta beserta unit G&A lainnya tepatnya di Sampoerna Strategic Square.
Tahun-tahun itu partai Gerindra banyak beriklan di TV. Tidak sekalipun saya simpatik. Saya juga dengar pimpinannya Pak Prabowo adalah aktor intelektual kerusuhan mei 98, dalang penculikan mahasiswa, pernah lari ke Yordania, dsb. Tapi dalam salah satu kunjungan saya ke pabrik kami waktu itu, pandangan saya berubah perlahan. Kepala Security pabrik kami yang cukup berumur, Pak Agus, suatu kali menceritakan tentang Komandannya, Jenderal Prabowo. Kebetulan Pak Agus adalah salah satu pensiunan prajurit TNI yang pernah mengenal, melihat, dan merasakan langsung kepemimpinan Sang Jenderal.
Pak Prabowo dalam pandangan Pak Agus adalah sosok yang berani dan peduli kepada anak buahnya. Kalo P…