Langsung ke konten utama

Relung Keinsafan

Tepat satu tahun lalu di akhir Ramadhan dunia dikejutkan oleh fakta kolapsnya Lehman Brothers Inc. Siapa nanya, bank investasi terbesar keempat Amerika tersebut, dengan total aset per kuartal keempat 2007 mencapai hingga 600 miliar dolar, serta pengalaman bisnis selama 158 tahun, dinyatakan bangkrut oleh pengadilan federal. Kebangkrutan itu bahkan merupakan yang terbesar dalam sejarah Ekonomi Paman Sam, mengalahkan Mega Skandal Enron di tahun 2001. Tentu, era ekonomi digital hari ini tak pernah membuat investor sebesar itu kekurangan analis keuangan ataupun data statistik investasi. Begitupun halnya yang dialami oleh Meryll Linch, Fannie Mae, Freddy Mac, atau AIG hingga akhirnya memaksa The Fed mengintervensi, seperti ketika Indonesia membentuk BPPN dalam menyelesaikan aset bermasalah. Efek berantai dari krisis subprime mortgage di Amerika itu kemudian menandai dimulainya krisis finansial global.

Diawali dengan tren pasar terhadap surat utang berbunga tinggi, maka hampir seluruh investasi dialokasikan untuk itu. Ketika terjadi kemacetan, yang paling banyak berinvestasi mengalami kerugian. Harga sahampun turun drastis sehingga memaksa para investor menjual murah portofolionya. Kondisi pasar yang tidak stabil hingga terjadinya credit crunch, membuat penjualan secara masif atas portofolio yang dimilikipun, akhirnya harus dilakukan tanpa mempedulikan kerugian yang akan timbul sama sekali. Kemudian terjadilah kebangkrutan di berbagai korporasi dunia, angka pengangguran yang meningkat tajam, melesunya pertumbuhan ekonomi, berkurangnya aset devisa negara, hingga bertambahnya jumlah penduduk miskin, dll.

Namun demikian, apa yang dialami oleh semua korporasi besar tersebut bukanlah semata-mata persoalan bisnis. Telah terjadi disorientasi akan nilai dan misi organisasi. Keserakahan adalah akar dari semua spekulasi berlebih, mimpi langgeng kejayaan, atau buaian untung yang berlimpah di kemudian hari, dimana materi adalah maharaja di atas segala-galanya.

Karena ketika materi sudah menjadi berhala, manusiapun menggadaikan seluruh kehidupannya. Seolah-olah uang, keuntungan, kekayaan, kejayaan dan segala kenikmatannya adalah satu-satunya hal yang harus diburu dan dicari di dunia ini. Entah untuk apa dan mengapa sehingga mereka harus mempertaruhkan seluruh kehidupan deminya. Bahkan, di negara-negara Skandinavia yang terkenal maju secara materi, adalah yang tertinggi pula tingkat bunuh dirinya di dunia. Begitupun yang terjadi di Jepang. Karena pada hakikatnya, keberlimpahan materi tanpa kekayaan makna, membuat manusia tidak memiliki jati diri yang kokoh di dalam kehidupan. Something for nothing, ketiadaan prinsip akal sehat saat berinvestasi dalam kasus subprime mortgage.

Maka dari itu, ibadah puasa yang senantiasa dijalankan oleh umat muslim itu mengandung hikmah yang besar. Saat sedang lapar-laparnya, saat sedang lemah-lemahnya, atau saat sedang tidak seimbang karena kebutuhan biologis makan, minum, dan seksnya tidak dapat disalurkan selagi berpuasa, manusia tersadarkan kembali akan fakta penciptaan dirinya. Bahwa setinggi apapun status sosialnya, dan sesombong-sombongnya ia berjalan di muka bumi ini, ia harus tunduk mengikuti hukum-hukum alam yang sudah digariskan. Bernafas dengan oksigen, melihat dengan cahaya, butuh makan dan minum, apalagi tidur beristirahat, dsb. Terhadap hukum-hukum alam ini, ia tidak bebas untuk memilih. Karenanya, kehadirannya di muka bumi ini adalah sesuatu hal yang spiritual, tidak kekal, dan menuntut pertanggungjawaban. Hidupnya tidaklah hanya berakhir di dunia ini saja.

Selain itu, puasapun mengajarkan akan arti keikhlasan. Walaupun sedang berlapar-lapar, mereka yang berpuasa tetap giat beraktifitas seperti biasa bahkan diwajibkan untuk membagikan hartanya bagi yang berkekurangan. Itupun, menurut perhitungan yang wajar dan tidak memberatkan. Sehingga, manusia dalam beribadah adalah sama halnya baik di saat kuat ataupun lemah, muda ataupun tua, sehat ataupun sakit, kaya ataupun miskin, berkelimpahan atau berkekurangan. Tak sedikitpun sifat menghamba ini berkurang saat dilanda musibah maupun mendapat anugerah. Keikhlasan total untuk beribadah semata-mata kepada Allah ini adalah ketaqwaan.

Dan setelah semuanya berakhir, bersama-sama umat muslim di seluruh dunia, takbirpun dikumandangkan dan digemakan, sebagai pertanda insan yang telah kembali menemukan jati dirinya. Yang menyadari sepenuhnya bahwa rekam jejak prestasi tertinggi manusia hanyalah amal kebaikan. Yang meyakini teguh bahwa hidup yang sesungguhnya adalah hidup yang nanti setelah tiada. Yang tidak pernah memiliki tuhan-tuhan apapun semasa hidupnya kecuali Allah ta’ala. Sungguh tiada sesuatupun yang patut disembah melainkan Allah yang Maha Besar, dan hanya bagi-Nya tertuju segala puja dan puji dari alam semesta. Merekapun saling mengucap: semoga kita semua termasuk golongan yang kembali dan yang meraih kemenangan, minal aidin wal faidzin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Fondasi Perubahan

Manakah yang lebih penting untuk dibangun dan dikembangkan guna kesuksesan perusahaan dan organisasi: people, leadership, competency, the driver factors, ataukah system, management, technology, the enabler factors?
Orang yang tidak tepat, pejabat lama yang tidak kompeten, langsung bisa diganti dengan pejabat baru. Tetapi bila sistem manajemennya tetap tiada berubah, dapat dipastikan tidak akan ada kejutan kinerja istimewa apapun dari pejabat baru tersebut. Lambat laun, seiring waktu, si pejabat ini juga akan digantikan lagi dengan orang yang baru. Insinyur terbaik di dunia sekalipun tidak akan berdaya bila masuk ke dalam organisasi yang lembam dan menutup diri dengan perubahan. 
Begitu pula, sistem yang lawas dan sudah tertinggal jauh, langsung bisa diganti dengan yang paling updated. Tetapi bila karyawan belum siap dan terbiasa menggunakannya akan percuma belaka. Betapa banyak kebijakan, prosedur, Undang-Undang, sistem aplikasi, rencana strategis, bahkan slogan dan iklan sosialisasi…

Avengers: Infinity War

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Anthony Russo, Joe Russo
Pemain: Benedict Cumberbatch, Chris Evans, Chris Hemsworth, Robert Downey Jr., Scarlett Johansson, Zoe Saldana
Genre: Action Sci-Fi

CERITA: 
Captain America, Black Panther, Doctor Strange, Hulk, Iron Man, Spiderman, Thor, dll. tergabung dalam Avengers, regu super hero penyelamat bumi, bersatu untuk ngalahin Thanos, musuh terkuatnya sampe saat ini, dalam semesta raya Marvel Comics. Bukan sekedar tokoh jahat yang harus dilawan bareng, Thanos juga punya nilai idealismenya sendiri. Ada humor, romansa, ancaman-kali ini-tingkat semesta, ditutup dengan perang kolosal. Ya 100% persislah dengan film Marvel Superheroes yang lain. Ceritanya ngebosenin, karena banyak banget pemainnya, sementara porsi tampil harus diatur dalam durasi 2,5 jam. Jadi sepanjang film adegannya cuma tempur dan tempur, ledakan dan ledakan. Rada tanggung juga karena ternyata film ini bagian pertama dari 2 film, jadi bersambung. Rilis lanjutannya tahun depan... Capek deh