Langsung ke konten utama

Melampaui Bahasa


Hari ini saya teringat sebuah episode dari Kick Andy di metro tv. Episode itu bercerita tentang seorang gadis keturunan Jawa yang dibesarkan di Jerman. Saat kedua orang tua angkatnya bertugas di Indonesia di tahun 80-an, mereka tertarik untuk mengadopsi sang bayi untuk diasuh & dibesarkan di negara asal mereka. Mengingat, ayah sang bayi juga sudah tiada, sementara sang ibu bertani menyambung hidup seorang diri. Dan sejak saat itu, ketika masih balita, sang gadis pun sudah berpisah dengan ibu kandungnya.

Saat tampil di studio, sang gadis yang berusia 19 tahun itu fasih berbicara dalam bahasa Jerman & Inggris, dan tak mampu untuk berbicara sedikitpun dalam bahasa Indonesia. Bahkan, sebelum diminta untuk tampil di metro tv, sang gadis belum pernah berkomunikasi, melihat, dan bertemu dengan sang ibu kandung yang tinggal di Indonesia. Dan, sewaktu keduanya dipertemukan, keduanyapun berpelukan erat dan menangis haru.

Demikianlah salah satu fenomena orang tua biologis dan orang tua sosial. Ada sosok-sosok di dunia ini yang seumur hidup tak pernah bertemu muka, berjabat tangan langsung, berbincang akrab, bahkan kenal satu dengan yang lainnya. Namun ketika akhirnya berjumpa, akan larut dalam keharuan yang mendalam.

Ada pula kisah seorang suami yang akhirnya memilih bercerai dengan istri dan anak-anaknya, untuk kemudian menikah lagi dengan seorang janda yang pernah menjadi kekasihnya semasa remaja dulu. Seolah-olah, istri dan anak-anaknya itu hanyalah istri sosial, sedang yang mantan dulunya, adalah cintanya yang sesungguhnya. Atau pula kisah fulan yang tak pernah menjadi pejabat pemerintahan atau pembesar di suatu negara, namun berbondong-bondong orang yang mendoakan kepergiannya. Sedangkan orang yang secara sosial-formal pernah dikenal sebagai guru bangsa, tokoh masyarakat, peneliti utama, dll, tak begitu ditangisi orang kepergiannya.

Karenanya, mungkin benar sebagian orang yang mengatakan bahwa tidaklah penting untuk memiliki sesuatu di dunia ini, apapun itu, bila tak disertai dengan perasaan penuh akan hal itu. Beragama tanpa keberagamaan, memiliki rumah tanpa kenyamanan, rumah tangga tanpa kemesraan, makanan tanpa rasa syukur, jabatan tanpa tanggung jawab, dsb. Tak terlalu melekat pada status kemasyarakatan, namun semuanya nyata dan bermakna dalam cinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…

Berkelas Dunia

Ada perbedaan mendasar antara perusahaan Global dengan perusahaan World Class. Perusahaan global berarti ada kegiatan operasi bisnis yang terjadi secara global, lintas negara, multi-national corporations, tidak memandang skala usaha. Asalkan sudah membuka kantor perwakilan di berbagai negara, perusahaan globallah ia. Sedang perusahaan kelas dunia berarti ada skala ekonomi bisnis tingkat dunia, kapitalisasi pasar yang sangat besar, dimana kebijakan strategis yang diambil perusahaan dapat mengubah lanskap industri dan kehidupan masyarakat dunia. Singkatnya, walau tak memiliki kantor perwakilan di berbagai negara namun pengaruhnya terasa ke seluruh dunia. 
Menurut Profesor Bartlett dari Harvard Business School, istilah perusahaan global itu sendiri sudah cukup usang, karena siapapun kini bisa berinteraksi secara global melayani pelanggan dari berbagai negara, kapanpun, dimanapun. Yang kemudian membedakannya dengan perusahaan kelas dunia adalah skala ekonomi bisnisnya. Apakah sebesar per…