Langsung ke konten utama

Wangari Maathai


Pernah suatu kali, seorang kandidat IT Manager yang saya assess menceritakan, ia ingin mencapai financial freedom suatu saat nanti di dalam hidupnya. Tidak bekerja lagi, namun bisa membiayai gaya hidup yang ia inginkan katanya. Multi million dollar man. Filantropi, riset teknologi, dan bisnis saja. Untuk umat manusia katanya pula. Dan ia akan bahagia, sepanjang hidup menurutnya.

Sebuah video lalu saya putarkan dihadapannya. Seorang pemilik dari sebuah MNC terkemuka berpidato. Tentang etika sebuah korporasi. Terhadap lingkungan, terhadap masyarakat. Income nya miliaran dolar per tahun. Biaya hidupnya dijamin hingga akhir hayat. Namun urusan bisnis membuatnya sibuk bukan main. Bukan secara fisik, namun fikiran serta spiritual. Uncertainty’s every where, the world’s so flat now. Tidak jarang, semakin berkurang tatkala semakin banyak. Semakin banyak mendapatkan, semakin haus pula untuk mendapatkan lagi. Semakin banyak yang diraih dan dipunyai, semakin takut untuk kehilangan. Semakin banyak target program pertumbuhan, semakin keras upaya yang harus ditempuh. Tak hanya untuk mencapainya, bahkan pula dalam mempertahankan apa yang sudah diraih. Bahagia jarang, mungkin cuma senang. Sang pelamar pun tertegun. Berfikir ulang tentang kebahagiaan. Tentang kontribusi nya terhadap dunia.

Pagi ini, Bloomberg channel, bersama dengan Marie Pangestu, The World Debate, Wangari Maathai berbagi pengalaman. Pemenang Nobel Perdamaian 2004. Tentang pelestarian lingkungan hidup, bagi manusia masa depan, untuk bumi yang kita cintai. Lebih dari 40 tahun sudah hal ini ditekuninya. Sedari belia, hingga usianya 70 tahun kini. Bukan nobel yang ia cari, bukan pula sebuah kursi kehormatan. Namun cita dan keyakinan nya tak pernah berubah. Tulus. Internal. Otentik. Api yang selalu menyala.

Mirip dengan sang pelamar tadi, saya pun mendapat sebuah ketegunan. Tak hanya Wangari Maathai. Banyak sekali figur seperti ini di dunia ini. Kebahagiaan, kontribusi, tidak menunggu tempat, harta, posisi, atau pula suatu saat nanti, sebuah waktu yang tepat. Saat ini juga, apapun aktifitas kita, dibangku manapun kita duduk, berapapun uang yang kita punya: A Life Mission, Blissful Day Forever.

Terima kasih Wangari Maathai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Fondasi Perubahan

Manakah yang lebih penting untuk dibangun dan dikembangkan guna kesuksesan perusahaan dan organisasi: people, leadership, competency, the driver factors, ataukah system, management, technology, the enabler factors?
Orang yang tidak tepat, pejabat lama yang tidak kompeten, langsung bisa diganti dengan pejabat baru. Tetapi bila sistem manajemennya tetap tiada berubah, dapat dipastikan tidak akan ada kejutan kinerja istimewa apapun dari pejabat baru tersebut. Lambat laun, seiring waktu, si pejabat ini juga akan digantikan lagi dengan orang yang baru. Insinyur terbaik di dunia sekalipun tidak akan berdaya bila masuk ke dalam organisasi yang lembam dan menutup diri dengan perubahan. 
Begitu pula, sistem yang lawas dan sudah tertinggal jauh, langsung bisa diganti dengan yang paling updated. Tetapi bila karyawan belum siap dan terbiasa menggunakannya akan percuma belaka. Betapa banyak kebijakan, prosedur, Undang-Undang, sistem aplikasi, rencana strategis, bahkan slogan dan iklan sosialisasi…

Avengers: Infinity War

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Anthony Russo, Joe Russo
Pemain: Benedict Cumberbatch, Chris Evans, Chris Hemsworth, Robert Downey Jr., Scarlett Johansson, Zoe Saldana
Genre: Action Sci-Fi

CERITA: 
Captain America, Black Panther, Doctor Strange, Hulk, Iron Man, Spiderman, Thor, dll. tergabung dalam Avengers, regu super hero penyelamat bumi, bersatu untuk ngalahin Thanos, musuh terkuatnya sampe saat ini, dalam semesta raya Marvel Comics. Bukan sekedar tokoh jahat yang harus dilawan bareng, Thanos juga punya nilai idealismenya sendiri. Ada humor, romansa, ancaman-kali ini-tingkat semesta, ditutup dengan perang kolosal. Ya 100% persislah dengan film Marvel Superheroes yang lain. Ceritanya ngebosenin, karena banyak banget pemainnya, sementara porsi tampil harus diatur dalam durasi 2,5 jam. Jadi sepanjang film adegannya cuma tempur dan tempur, ledakan dan ledakan. Rada tanggung juga karena ternyata film ini bagian pertama dari 2 film, jadi bersambung. Rilis lanjutannya tahun depan... Capek deh