Langsung ke konten utama

Visionary Discipline


In Australia, its Bureau of Statistics explain that at age 65 the population breaks down in this way:

  • 1% of the population at age 65 is what realistically could be considered as “financially independent”
  • 4% of the population is what could be termed as “rich” means they have enough money and/or investments to live a comfortable life without working
  • 96% of the population is either dead, financially broken, depending on insufficient pension, or depending on others (family) to support them

These findings must be good reflection for all of us to project where we will be at our older age. The important question is, what’s the most fundamental difference between people who matured financially and they who does not? Those who are able to achieve financial independence at least at age of 65? The most fundamental thing to convince is that they don’t just live for paying their lousy bills along their lifetime, or to get by, or to survive, or to make it through the day. Along their lifetime they very well design and build a life that they really want, rather than most who try just to make a living.

They design it very well sophisticated, ultimately exciting, well defined, in details, in measurable terms, even not only in exactly what they want to achieve, but much higher than that, they have important pillars, the values ​​they should hold along their life’s journey of achievement. They hold that well designed blueprint, they believe on it, they run it through the days, they fix what does not work well, they improve the ways to achieve, and they will never quit until all of those ultimate goals are realized. They always open their mind, learn from the bests, and become persistently bold on actions every single time. They have chosen to commit for themselves a life time, what kind of living that they want and who they really want to become.

As Jim Rohn ever said:
“Don’t set your goals too low. If you don’t need much, you won’t get much.
Don’t borrow someone else’s plan. Develop your own philosophy and it will lead you to a unique place.
Don’t join an easy crowd. Go where the expectations and demands to perform and achieve are high.
Don’t just let your business or your job make something for you, let it make something of you.
Don’t just read the easy stuff. You will never grow from it.
Don’t spend most of your time on the voices that don’t count. Tune out the shallow voices so that you will have more time to tune in the valuable ones.
Don’t wish it easier, wish you were better.
Don’t wish for less problems, wish for more skills.
Don’t wish for less challenges, wish for more wisdom.
Don’t take the casual approach to life. Casualness leads to casualties.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…

Berkelas Dunia

Ada perbedaan mendasar antara perusahaan Global dengan perusahaan World Class. Perusahaan global berarti ada kegiatan operasi bisnis yang terjadi secara global, lintas negara, multi-national corporations, tidak memandang skala usaha. Asalkan sudah membuka kantor perwakilan di berbagai negara, perusahaan globallah ia. Sedang perusahaan kelas dunia berarti ada skala ekonomi bisnis tingkat dunia, kapitalisasi pasar yang sangat besar, dimana kebijakan strategis yang diambil perusahaan dapat mengubah lanskap industri dan kehidupan masyarakat dunia. Singkatnya, walau tak memiliki kantor perwakilan di berbagai negara namun pengaruhnya terasa ke seluruh dunia. 
Menurut Profesor Bartlett dari Harvard Business School, istilah perusahaan global itu sendiri sudah cukup usang, karena siapapun kini bisa berinteraksi secara global melayani pelanggan dari berbagai negara, kapanpun, dimanapun. Yang kemudian membedakannya dengan perusahaan kelas dunia adalah skala ekonomi bisnisnya. Apakah sebesar per…