Langsung ke konten utama

Kecerdasan Eksekusi

Adakah perusahaan yang setiap tahunnya terus mengalami pertumbuhan dan tak pernah sekalipun beranjak dalam posisinya sebagai pemimpin pasar? Tentu saja ada, bahkan banyak di dunia ini. Lantas apa yang membedakan perusahaan tersebut dengan perusahaan lain yang sejenis? Eksekusi adalah jawabannya. Kemampuan untuk memutuskan hal-hal yang berdampak besar bagi organisasi dengan resiko dan tingkat kesulitan yang seminimal mungkin. Tentu saja para pemimpin yang disebut dengan CEO itu layak dibayar mahal karena kemampuan eksekusinya yang baik sekali dalam mencapai tujuan perusahaan.

Dimulai dengan perencanaan strategis jangka panjang hingga perumusan alternatif saat crisis management tiba,para pemimpin tersebut terus mengupayakan eksekusi terbaik bagi organisasinya setiap hari. Prinsipnya, satu tujuan yang paling penting dan bernilai untuk mencapai semua tujuan. Hal-hal yang kurang penting, tak berdampak terhadap bisnis, apalagi sulit untuk diwujudkan, tentu saja tak pernah mendapat prioritas untuk dilaksanakan. Jangankan menerapkan konsep manajemen terbaru, bahkan apa yang pernah berhasil di masa lalupun, tak sungkan untuk mereka adopsi kembali demi mencapai tujuan penting organisasi. Menghasilkan dan menghasilkan. Itulah fokus kerja para eksekutif di berbagai perusahaan.

Keberadaan e-mailcellphonemessengernews alertsocial mediatv program, dan berbagai bentuk media informasi lainnya, sedikit banyak telah mempengaruhi kecerdasan eksekusi kita sebagai individu. Begitu banyak stimulus informasi beredar saat ini yang membuat kemampuan kita untuk berfokus menjadi berkurang. Di tahun 2008 saja, kita telah mengkonsumsi ledakan media 3 kali lebih besar setiap harinya dibandingkan dengan tahun 1960. Nora Volkow, Direktur NIDA Amerika, seperti dilansir oleh New York Times menceritakan. Pesatnya arus informasi sebagai ‘pencuri perhatian sejenak’, menyebabkan respon dopamin berlebih dalam otak kita menurut pandangan para ilmuwan. Hal ini menyebabkan efek ketagihan akan stimulus informasi. Ketiadaan stimulus dalam jumlah yang biasa kita konsumsi, dapat membuat kita merasa bosan dalam keseharian.

Penelitian di University of California, Irvine, menemukan pula bahwa mereka yang disebut dengan para multitaskers, ternyata lebih sering merasa stres karena kesulitan dalam berfokus dan memilih stimulus informasi yang penting bagi mereka. Penggunaan teknologi komunikasi yang berlebihan, menurut para peneliti di Stanford University, dapat mengikis empati kita karena membatasi interaksi sosial langsung dengan masyarakat. Padahal, seperti halnya para eksekutif, selayaknya kitapun dapat secara tajam mengeksekusi apa-apa yang penting bagi diri kita setiap hari. Hal-hal yang tidak penting, time wasters, dan tidak menghasilkan, sudah sepatutnya pula kita eksekusi untuk tidak dilakukan dan berfokus pada hal-hal yang esensial saja.

Pendidikan adalah salah satu fokus yang penting bagi diri kita untuk dieksekusi sepanjang rentan kehidupan. Sebagaimana Jim Rohn pernah mengatakan: “formal education will make you a living and self education will give you a fortune”.

Saat sahabat sedang membaca tulisan ini, ada banyak orang yang sedang belajar mengembangkan kemampuannya untuk meraih tujuan yang penting bagi hidupnya. Mereka, sama seperti sahabat, adalah para eksekutor yang sangat handal. Yang menghabiskan waktunya secara efektif. Yang selalu berfokus untuk melihat, membaca, menyimak, membicarakan, dan melakukan hal-hal yang menginspirasi, mendidik, memberdayakan, penuh hikmah, penuh solusi, bermanfaat, penting, dan bernilai bagi kehidupan mereka dan orang lain. Yang senantiasa aktif terlibat di dalam kelas-kelas pembelajaran dan organisasi pembelajaran. Yang memiliki semangat untuk terus bertumbuh menjadi lebih baik. Menjadi lebih sehat, lebih cerdas, lebih kreatif, lebih sejahtera, lebih bahagia, lebih bijaksana, lebih berguna. Tentu saja semua hal ini dikarenakan, kita benar menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat untuk sekedar menghabiskan usia dan tak memberi arti apa-apa.

Execution is power !

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Fondasi Perubahan

Manakah yang lebih penting untuk dibangun dan dikembangkan guna kesuksesan perusahaan dan organisasi: people, leadership, competency, the driver factors, ataukah system, management, technology, the enabler factors?
Orang yang tidak tepat, pejabat lama yang tidak kompeten, langsung bisa diganti dengan pejabat baru. Tetapi bila sistem manajemennya tetap tiada berubah, dapat dipastikan tidak akan ada kejutan kinerja istimewa apapun dari pejabat baru tersebut. Lambat laun, seiring waktu, si pejabat ini juga akan digantikan lagi dengan orang yang baru. Insinyur terbaik di dunia sekalipun tidak akan berdaya bila masuk ke dalam organisasi yang lembam dan menutup diri dengan perubahan. 
Begitu pula, sistem yang lawas dan sudah tertinggal jauh, langsung bisa diganti dengan yang paling updated. Tetapi bila karyawan belum siap dan terbiasa menggunakannya akan percuma belaka. Betapa banyak kebijakan, prosedur, Undang-Undang, sistem aplikasi, rencana strategis, bahkan slogan dan iklan sosialisasi…

Avengers: Infinity War

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Anthony Russo, Joe Russo
Pemain: Benedict Cumberbatch, Chris Evans, Chris Hemsworth, Robert Downey Jr., Scarlett Johansson, Zoe Saldana
Genre: Action Sci-Fi

CERITA: 
Captain America, Black Panther, Doctor Strange, Hulk, Iron Man, Spiderman, Thor, dll. tergabung dalam Avengers, regu super hero penyelamat bumi, bersatu untuk ngalahin Thanos, musuh terkuatnya sampe saat ini, dalam semesta raya Marvel Comics. Bukan sekedar tokoh jahat yang harus dilawan bareng, Thanos juga punya nilai idealismenya sendiri. Ada humor, romansa, ancaman-kali ini-tingkat semesta, ditutup dengan perang kolosal. Ya 100% persislah dengan film Marvel Superheroes yang lain. Ceritanya ngebosenin, karena banyak banget pemainnya, sementara porsi tampil harus diatur dalam durasi 2,5 jam. Jadi sepanjang film adegannya cuma tempur dan tempur, ledakan dan ledakan. Rada tanggung juga karena ternyata film ini bagian pertama dari 2 film, jadi bersambung. Rilis lanjutannya tahun depan... Capek deh