Langsung ke konten utama

Empati Prabowo

Banyak yang tanya mengapa Prabowo. Alasan saya sederhana saja. Waktu itu akhir tahun 2008. Saat itu saya masih bekerja di Arbe Styrindo, sebuah perusahaan B2B Petrokimia yang pabriknya berlokasi di Cilegon, Banten. Saya berkantor di Jakarta beserta unit G&A lainnya tepatnya di Sampoerna Strategic Square.

Tahun-tahun itu partai Gerindra banyak beriklan di TV. Tidak sekalipun saya simpatik. Saya juga dengar pimpinannya Pak Prabowo adalah aktor intelektual kerusuhan mei 98, dalang penculikan mahasiswa, pernah lari ke Yordania, dsb. Tapi dalam salah satu kunjungan saya ke pabrik kami waktu itu, pandangan saya berubah perlahan. Kepala Security pabrik kami yang cukup berumur, Pak Agus, suatu kali menceritakan tentang Komandannya, Jenderal Prabowo. Kebetulan Pak Agus adalah salah satu pensiunan prajurit TNI yang pernah mengenal, melihat, dan merasakan langsung kepemimpinan Sang Jenderal.

Pak Prabowo dalam pandangan Pak Agus adalah sosok yang berani dan peduli kepada anak buahnya. Kalo Pak Prabowo inspeksi dapur di barak, dia akan menegur keras bila lauk pauk yang dimakan prajurit tidak enak dan tidak bergizi. “Gimana mau terjun tempur kalo makan kalian cuma tahu dan tempe. Ganti dengan daging dan sayur terbaik. Saya akan menghadap Panglima biar dibenahi”. Makanan prajurit pun akhirnya enak dan bergizi. Kalo prajurit yang dipimpinnya hendak bertanding sepak bola atau bulu tangkis kejuaraan, dialah orang yang pertama untuk memeriksa kelengkapan prajuritnya dalam berlatih. “Gimana bisa menang kalo sepatu kalian butut, raket kalian kendor. Ganti. Ini ada uang, cari sepatu yang terbagus, kaos yang bagus, raket, bola, dll. yang bagus. Kalian harus juara, dengan pola latihan yang terbaik”. Akhirnya para prajurit pun bisa berlatih dengan baik dan meraih juara dalam pertandingan yang digelar. Singkatnya walau tak pernah bertemu muka dan bertegur sapa lagi dengan mantan Komandannya itu, apalagi punya nomor handphone nya, Pak Agus mengenangnya dengan penuh hormat dan kagum.

Saya pun tertegun saat itu juga. Itulah leadership yang sesungguhnya dalam hati saya. Sebuah pengaruh dan kesan bernilai yang tertanam kuat. Bagaimana orang yang pernah kita pimpin tetap mengenang kita sebagai pribadi yang baik, walau kita tak pernah lagi bertegur sapa apalagi bertatap muka dengan mereka. Bahkan walau bertahun-tahun lamanya seperti yang dialami oleh Pak Agus tersebut. Dia pun sangat mendukung upaya Pak Prabowo terjun dalam dunia politik. Saya pun lantas berpikir kalo Prabowo memimpin bangsa ini, pasti negara ini cepat maju dengan karakter kepemimpinan berani dan peduli seperti itu. Sedari dulu, tidak dibuat-buat, karena orang lain yang menceritakan, sesuai lingkup tanggung jawabnya di masyarakat.

Kemudian Prabowo banyak tampil dalam acara-acara dialog. Di TVRI saat itu. Bersama moderator Irma Hutabarat. Dia mengkritisi kebocoran kekayaan nasional untuk pendapatan negara. Illegal logging, illegal mining, illegal fishing, transfer pricing. Besarnya impor daripada ekspor. Pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan. Korupnya aparat pemerintahan. Bahan bakar minyak yang cadangannya tinggal belasan tahun. Kesenjangan kaya dan miskin yang sangat mencolok. Bagaimana bank-bank BUMN menyalurkan kredit bertrilyun-trilyun hanya untuk pengembang mal-kondominium-perumahan mewah saja. Infrastruktur jalan di tempat. Dsb. Tak hanya mengkritik, ia pun memberikan solusinya. Efisiensi anggaran. Optimalisasi penerimaan pajak. Pemberantasan korupsi. Penegakan hukum tanpa pandang bulu. Pola pembangunan berkeadilan. Bahan bakar alternatif. Broadband internet. Kredit masif untuk UMKM. Penggiatan pertanian-perkebunan-peternakan-perikanan untuk utamanya perekonomian. Dsb. Saya pun simpatik pada Prabowo. Karena hanya Beliau yang mau bicara yang pahit-pahit tentang kondisi bangsa di saat yang lain cenderung bermanis-manis saja.

Setelah Amien-Siswono kalah di pilpres putaran pertama 2004, lalu Mega-Hasyim juga di putaran keduanya, maka saya memilih Mega-Prabowo di 2009. Dengan kampanye yang sangat kritis, seperti “masih banyak rakyat kita yang seharinya hidup dengan pendapatan di bawah 20 ribu rupiah”, kampanye Lanjutkan! Lah yang justru mendapatkan mandat dari rakyat. Sementara kampanye Lebih Cepat Lebih Baik, Jusuf Kalla-Wiranto, harus bertengger jadi urutan ke-3 dalam pilpres 2009 lalu. Notabene, JK saat itu wakil presiden aktif yang tak lagi bisa kompak dengan SBY seperti layaknya duo Obama-Biden untuk dua periode pemerintahan walau di 2004 menggaungkan Bersama Kita Bisa.

Kini 2014. Lima tahun menunggu dengan kesibukannya dalam berbagai urusan, seperti membina ribuan anak asuh di papua, ratusan penerima beasiswa SD s/d S3, atlet bridge-polo-pencak silat-sepak bola U-19, kontestan olimpiade fisika internasional, kader partai Gerindra yang bersih dari panggilan KPK-yang dilarang studi banding ke luar negeri pakai uang APBN-yang beroposisi walau ditawari kursi dalam kabinet-yang walk out bila pemerintah menaikkan harga BBM-yang laporan keuangan partainya paling transparan menurut ICW, sponsorship kepemimpinan generasi baru di berbagai Pilkada seperti di DKI Jakarta dan Bandung, advokasi ratusan TKI yang mengalami legal dispute, laboratorium pertanian-perkebunan-peternakan-perikanan unggul, ratusan klinik dan ambulans gratis, riset dan kajian energi alternatif, seminar dan diskusi transformasi kebangsaan, sumbangan di berbagai perpustakaan kampus dan pesantren, belasan perusahaan bisnis nasional dan manca negara, dsb. Pak Prabowo kembali maju sebagai calon presiden.

Saya masih mendukungnya. Walau Beliau tentu jauh dari sempurna. Orasinya biasa saja tak terlalu menggelorakan. Inggrisnya juga tak lancar-lancar amat. Cenderung tekstual kurang impromptu. Tak terlalu spontan dan cukup temperamental. Namun Beliau otentik. Jujur. Ekspresinya bukanlah pencitraan dalam pandangan saya.

Dalam berbagai kesempatan Beliau berulang menceritakan: “Saya maju jadi presiden bukan cari kesibukan, karena saya sudah cukup sibuk. Saya bukan cari kekayaan karena kekayaan saya sudah cukup. Justru kalo mau kaya jangan berpolitik tapi berbisnis. Bagi saya ini sebuah panggilan. Sense of duty. Walau pasti diterpa isu negatif itu-itu saja yang hanya muncul lima tahun sekali. Walau banyak pihak yang tidak suka karena saya terus terang apa adanya. Karena tidak akan ada perubahan besar tanpa perubahan politik. Saya menjunjung tinggi demokrasi, makanya mendirikan partai politik, bermusyawarah, bermufakat, berkoalisi, dan mendukung siapapun yang diberi mandat oleh rakyat. Dengan kekuasaan yang diperoleh secara sah dan demokratis, insya Allah saya dan kita semua bisa lebih banyak lagi berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara. Inilah jalan yang saya pilih di sisa hidup saya. Kalo saya gagal, kalo saya gagal. Tinggalkan saya. Cari Prabowo Prabowo baru di masa depan, untuk keadilan, kemakmuran, dan kedaulatan rakyat Republik Indonesia yang saya cintai”.

Semoga tulisan sederhana ini mampu menginspirasi seluruh sahabat yang seide dalam upaya mendukung perjuangan Beliau di Mahkamah Konstitusi saat ini. Karena bukan tentang menang dan kalah dalam pilpres, tetapi warisan nilai kejujuran yang harus kita tanamkan kepada ratusan generasi Indonesia di masa depan.

Salam Indonesia Raya !





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mazhab Perubahan

Setelah satu tahun sudah berupaya maksimal sedemikian rupa untuk mencapai target-target yang ditetapkan di awal tahun kemarin, kini perusahaan dan organisasi menemui batas akhirnya. Seberapa baik the bottom line, profitabilitas, adalah inti dari semua target pencapaian satu tahun berjalan. Ada yang berhasil gemilang, ada yang biasa saja, ada pula yang tidak berhasil dan bahkan merugi. Belum lagi bila dibandingkan tingkat pertumbuhannya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tren pencapaian grup industri sejenis, dst. Namun pimpinan yang bijak tentu akan mencermatinya dengan kaca mata yang sedikit berbeda. Look on the bright side, inilah sejatinya kepemimpinan.

Walau Profit tak sesuai harapan di tahun ini, tetapi boleh jadi Process semakin baik, semakin efektif, semakin efisien. Mungkin juga Product semakin berkualitas, semakin sedikit cacatnya, semakin sedikit komplainnya, semakin diakui dunia, semakin inovatif. Atau yang terpenting People semakin produktif, semakin kreatif, sem…

Keraguan Hati

Syahdan, Haji Agus Salim tengah mengambil wudhu hendak salat zuhur. Sutan Sjahrir yg agak liberal kritis berkomentar. Kenapa engkau salat tuanku Haji Agus Salim? Apakah engkau pernah melihat Nabi, Tuhan, dan Akhirat? Kenapa kau melakukan sesuatu yg tak kau mengerti sama sekali? Agus Salim menjawab. Kenapa sutan mudik naik kapal laut? Kenapa sutan percaya sekali pada nakhoda nya akan diantarkan selamat sampai tujuan? Apakah sutan mengerti dan paham secara detil kapal laut bisa tak tenggelam di air walau beratnya berton-ton? Sutanpun tertegun dan menggangguk.

Berpuasa, zakat, salat, dll. ritual agama adalah wilayah metafisika. Di luar nalar dan logika manusia. Bagaimana quran dlm bahasa arab bisa dihapal ribuan ayatnya oleh anak kecil 5 tahun yg bukan berbangsa arab, bahkan yg tak bisa baca dan tulis dalam huruf alfabet. Dsb.

Ibadah/ritual yang kita lakukan itu pun bermacam-macam pula motivasinya. Dari buku Lentera Hati oleh Ustadz Quraish Shihab setidaknya ada 4:

Pertama, Ibadahnya pa…

Pelatih Hebat

Seringkali saya ditanya oleh klien seberapa besar dampak dari suatu pelatihan terhadap perubahan di tempat kerja mereka masing-masing? Kadang ada pula klien yang menambahkan, agar selepas pelatihan yang dilaksanakan nanti, kerja sama kekompakan tim mereka dapat menjadi lebih solid, kedisiplinan karyawan akan lebih baik, kinerja penjualan dan produktifitas bisa lebih tinggi, kemampuan keterampilan personil meningkat tajam, bahkan dapat timbul kepuasan kerja dan kebahagiaan kepada perusahaan. Dan selalu, sebagaimana yang saya pahami akan konsep perubahan, saya sampaikan secara pasti bahwa pelatihan yang dilaksanakan tersebut tidak akan berdampak banyak terhadap perubahan di perusahaan klien masing-masing. Ya benar. Itu yang selalu menjadi jawaban saya apa adanya. Kalau ada yang mengklaim bahwa dengan pelatihan semua hal yang disebutkan di atas dapat terwujud, silahkan saja, tapi saya tidak akan pernah gagah-gagahan mengklaim seperti itu.

Pelatihan, team building programs, outbond games…