Langsung ke konten utama

Epifani Bahagia

Seorang rekan, eksekutif puncak sebuah perusahaan global, suatu saat pernah merenungkan dalam-dalam makna kebahagiaan di tengah pencapaiannya. Popularitas dan pengaruh, keberlimpahan materi, keluasan wawasan dan keahlian, beragam prestasi nasional dan internasional, serta keluarga yang harmonis, semuanya ia miliki. Iapun sempat beberapa kali melibatkan diri dalam aksi kemanusiaan bersama perusahaannya, khususnya saat terjadi bencana alam yang besar. Miliaran rupiah sudah mereka sumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. Namun tak jua semua yang dijalaninya itu mampu menjawab kegundahan hati.

Seringkali, teman dan koleganya datang berkunjung. Namun ia merasa mereka mengunjunginya hanya bila ada perlunya saja. Tak jarang, hanyalah sekedar berbasa-basi demi urusan pinjam-meminjam uang. Tak ada lagi sapaan tulus dari seorang sahabat, atau senyum yang jujur dan penuh penghargaan sebagai sesama. Entah mengapa dirinya merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Hingga hidangan mewah sebuah kapal cruise berbintang enam sekalipun amatlah terasa biasa untuk disantap di tengah pelayarannya di samudera Atlantik. Hidup yang nir gairah dan kadang kala menjemukan.

Iapun lalu mempelajari kembali tentang kebahagiaan. Mulai dari Socrates hingga Martin Seligman. Mulai dari para inspirator hingga agamawan. Mulai dari ajaran Budha hingga Neuro Linguistic Program. Kesemuanya ternyata memiliki bahasa yang hampir serupa. Bahwa kebahagiaan itu adalah sebuah state of mind, sebuah pilihan, yang senantiasa patut dipelihara frekuensi kehadirannya dengan banyak-banyak membahagiakan orang lain, apalagi dirinya sendiri, dengan banyak-banyak bersyukur dan banyak-banyak berbuat baik. Demikianlah kesimpulan pemikiran yang mengena di hatinya.

Maka, sejak saat itu, di setiap harinya, sang rekan eksekutif tadi membulatkan tekadnya untuk senantiasa berusaha melakukan hal walau sekecil apapun jua namun dengan dipenuhi makna kebaikan. 

Berdoa. Introspeksi diri. Menikmati udara pagi. Berolahraga. Memasak. Makan secukupnya. Mandi membersihkan badan. Berpakaian rapi. Memupuk kebanggaan atas pekerjaan. Memberi senyuman. Bekerja dengan semangat. Memimpin dengan keteladanan. Menyapa orang di sekitar. Membantu dan memuji orang lain. Memenuhi janji. Bekerja sama. Meminta maaf jika berbuat salah. Memaafkan orang lain. Memahami dan empati. Tidak mempermalukan siapapun. Tidak merendahkan siapapun. Menahan amarah. Berfikir terbuka. Berfikir positif. Memberi hadiah. Menghargai pendapat. Disiplin. On time. Berhenti di lampu merah. Tidak memotong jalan. Belajar keterampilan baru. Belajar bahasa asing. Mendengarkan musik yang disukai. Mencoba makanan baru. Makan bersama keluarga. Bercengkerama dengan anak-anak. Menonton program tivi bermanfaat. Bermesraan dengan pasangan. Membaca buku dan novel inspiratif. Menulis surat kepada sahabat. Menjaga silaturahmi. Menghibur yang berkesusahan. Bernyanyi. Berbagi kebijaksanaan. Mengilhami orang lain. Bersedekah. Menyisihkan dana untuk aktifitas sosial. Memelihara hobi. Membaca majalah yang disukai. Mengkaji kitab suci. Mengingat Tuhan dan kematian. Memanfaatkan waktu istirahat. Berbuat baik. Membahagiakan dirinya dan orang lain. Iapun kini tak pernah lagi tak berbahagia.

“An old day passes, a new day arrives. The important thing is to make it a meaningful day. A happiness.” ~His Holiness the 14th Dalai Lama~




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…

Berkelas Dunia

Ada perbedaan mendasar antara perusahaan Global dengan perusahaan World Class. Perusahaan global berarti ada kegiatan operasi bisnis yang terjadi secara global, lintas negara, multi-national corporations, tidak memandang skala usaha. Asalkan sudah membuka kantor perwakilan di berbagai negara, perusahaan globallah ia. Sedang perusahaan kelas dunia berarti ada skala ekonomi bisnis tingkat dunia, kapitalisasi pasar yang sangat besar, dimana kebijakan strategis yang diambil perusahaan dapat mengubah lanskap industri dan kehidupan masyarakat dunia. Singkatnya, walau tak memiliki kantor perwakilan di berbagai negara namun pengaruhnya terasa ke seluruh dunia. 
Menurut Profesor Bartlett dari Harvard Business School, istilah perusahaan global itu sendiri sudah cukup usang, karena siapapun kini bisa berinteraksi secara global melayani pelanggan dari berbagai negara, kapanpun, dimanapun. Yang kemudian membedakannya dengan perusahaan kelas dunia adalah skala ekonomi bisnisnya. Apakah sebesar per…