Langsung ke konten utama

Karyawan Senior

Orang bilang pengalaman adalah guru yang terbaik. Mereka yang punya banyak pengalaman akan lebih banyak belajar. Merekapun jadi lebih tahu dan lebih mampu dibanding mereka yang tidak punya banyak pengalaman. Hal seperti ini juga masih sering berurat berakar dalam lingkungan perusahaan. Untuk urusan rekrutmen karyawan misalnya, kerapkali dipersyaratkan jumlah tahun pengalaman kerja terhadap suatu posisi jabatan. Paradigmanya adalah semakin lama seseorang bekerja, maka akan semakin tahu dan mampulah ia untuk bekerja. Tetapi benarkah demikian?

Sebagai gambaran, dua orang pilot, pilot A dan pilot B, sama-sama memiliki pengalaman kerja selama 5 tahun. Pilot A, menerbangkan pesawat selama 5 tahun dengan rute penerbangan antara Jawa - Sumatera dalam frekuensi terbang yang sangat teratur. Sementara pilot B, menerbangkan pesawat selama 5 tahun dengan rute penerbangan bervariasi antara Asia – Eropa – Amerika dalam frekuensi terbang yang tinggi dan berubah-ubah melintasi banyak zona waktu dan musim. Tentu saja, 5 tahun jam terbang pilot A terasa cukup jauh perbedaannya dengan 5 tahun jam terbang pilot B.

Gambaran lainnya, dua orang kandidat profesional, kandidat pertama dan kandidat kedua. Kandidat pertama, seorang karyawan dengan jabatan Chief Financial Officer, telah bekerja selama 20 tahun di sebuah perusahaan keluarga pada industri ritel sepatu nasional, dengan 4 outlet penjualan dan sebuah pabrik kerajinan yang berada di Jakarta. Kandidat pertama ini tidak pernah berpindah kerja selama 20 tahun, dan jumlah anak buah serta tanggung jawab jabatannya, dari dulu hingga sekarang, juga tidak pernah berubah, yakni membawahi 6 orang staf secara keseluruhan dan melapor langsung kepada atasannya, yang tak lain adalah si pemilik perusahaan yang juga menjabat Direktur. Dalam 20 tahun perjalanan karirnya di perusahaan keluarga tersebut, tidak pernah terjadi perubahan-perubahan yang besar—seperti proses akuisisi atau aksi IPO (Initial Public Offering)—dan pertumbuhan perusahaan selalu berada pada tingkat rata-rata dalam industri sejenis.

Kandidat kedua, seorang karyawan dengan jabatan Finance Manager, yang memiliki pengalaman kerja di bidang keuangan selama 10 tahun, dalam 3 industri yang berbeda, yaitu ritel sepatu nasional, perkebunan sawit nasional, dan pertambangan nikel internasional. Perpindahan kerja kandidat kedua memiliki rentang waktu yang teratur seiring kenaikan tanggung jawab yang diembannya. Dalam jabatan terakhirnya kini sebagai Finance Manager, kandidat kedua membawahi 15 orang staf secara keseluruhan dan melapor langsung kepada Direktur, serta berkoordinasi rutin dengan 4 kantor cabang pemasaran di Indonesia dan sesekali dengan kantor pusat perusahaan yang ada di Brazil. Dalam 10 tahun perjalanan karir kandidat kedua, pernah terjadi dua perubahan besar dimana ia terlibat sebagai tim inti di dalamnya, yakni proses merger dan restrukturisasi perusahaan.

Dari gambaran tersebut di atas, kandidat pertama dapat dikatakan adalah orang yang anti pada perubahan, tidak berani mengambil resiko, kurang gairah dalam berinovasi, dan berorientasi kepada “comfort zone“. Sedang kandidat kedua dapat dikatakan adalah orang yang terbuka terhadap perubahan, berani mengambil resiko, bergairah dalam inovasi, dan tidak berorientasi kepada “comfort zone” semata. Boleh jadi pula alasan kandidat pertama dapat bertahan lama di satu perusahaan selama 20 tahun, adalah karena masa kerjanya yang sudah cukup lama menjadi jaminan akan besarnya uang pesangon yang diterima nanti saat pensiun tiba. Atau bisa juga alasan lainnya, seperti adanya pinjaman pada perusahaan tempatnya bekerja yang belum lunas dibayarkan, dan dengan bertahan lama di perusahaan maka pinjaman tersebut berangsur-angsur akan lunas seiring pemotongan gaji yang dilakukan setiap bulannya. Apalagi jika dalam masa kerja 20 tahun tersebut, kandidat pertama tidak pernah lagi mengupayakan program pengembangan diri dari kantong pribadinya secara sukarela, dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan bidang keuangan, tetapi hanya mengandalkan program pengembangan diri yang gratis dari perusahaan, dan tidak pula memiliki prestasi apapun. Sementara kandidat kedua dalam rentang masa kerja yang lebih singkat, tampak aktif mengembangkan dirinya secara sukarela, dan tidak hanya mengharap yang gratis saja dari perusahaan, bahkan memiliki banyak prestasi dan pencapaian. Tentu saja, bila memang demikian keadaannya, maka kandidat kedua yang hanya berpengalaman kerja 10 tahun ini akan lebih direkomendasikan dibanding kandidat pertama, walau memiliki pengalaman kerja yang lebih lama yakni selama 20 tahun.

Job exposures jelas lebih penting nilainya dibandingkan job experiences, dan inilah ciri perusahaan maju abad ini. Seperti halnya yang dilakukan oleh manajemen Google, Facebook, Marriott International, Starbucks, Zappos, dll. yang tidak begitu mementingkan lamanya pengalaman kerja seseorang melainkan hasil dan kemampuan kerja secara objektif. Dengan berbagai kemudahan akses dan metode percepatan belajar saat ini, Deloitte bahkan menyimpulkan sudah sepatutnya pola karir di perusahaan tidak lagi berkembang secara birokratis dan hirarkis seperti anak tangga (ladder style), tetapi fleksibel dan adaptif seperti jejaring (lattice style). Benar bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun hanya pengalaman terbaiklah yang mampu menjadikan seseorang guru yang terbaik.

“There are two kinds of people in any organizations: Those with 10 years experience and those with one year experience repeated 10 times”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Empati Prabowo

Banyak yang tanya mengapa Prabowo. Alasan saya sederhana saja. Waktu itu akhir tahun 2008. Saat itu saya masih bekerja di Arbe Styrindo, sebuah perusahaan B2B Petrokimia yang pabriknya berlokasi di Cilegon, Banten. Saya berkantor di Jakarta beserta unit G&A lainnya tepatnya di Sampoerna Strategic Square.
Tahun-tahun itu partai Gerindra banyak beriklan di TV. Tidak sekalipun saya simpatik. Saya juga dengar pimpinannya Pak Prabowo adalah aktor intelektual kerusuhan mei 98, dalang penculikan mahasiswa, pernah lari ke Yordania, dsb. Tapi dalam salah satu kunjungan saya ke pabrik kami waktu itu, pandangan saya berubah perlahan. Kepala Security pabrik kami yang cukup berumur, Pak Agus, suatu kali menceritakan tentang Komandannya, Jenderal Prabowo. Kebetulan Pak Agus adalah salah satu pensiunan prajurit TNI yang pernah mengenal, melihat, dan merasakan langsung kepemimpinan Sang Jenderal.
Pak Prabowo dalam pandangan Pak Agus adalah sosok yang berani dan peduli kepada anak buahnya. Kalo P…