Langsung ke konten utama

Misionaris Visioner

Bila kita telusuri dengan seksama sejarah industri dunia, ternyata cukup banyak perusahaan yang berusia lebih dari 100 tahun. Sungguh sebuah fakta yang menakjubkan. Sebut saja Ford, HSBC, Nestle, Sumitomo Group, atau Tiffany & Co. Bahkan Sumitomo Group sendiri, ternyata sudah berusia lebih dari 400 tahun dan termasuk salah satu konglomerasi tertua di dunia yang melegenda (legendary company). Di sisi lain, bila kita telusuri pula dengan seksama sejarah bursa saham dunia seperti Dow Jones Industrial AverageS&P 500, atau FTSE 100, ternyata banyak pula perusahaan, yang jangankan bisa bertahan selama 1 abad, bahkan seperempat abad saja tidak sampai, sudah dinyatakan pailit, diakuisisi, mengalami merger dengan perusahaan lain, dan tak lagi bertengger di lantai bursa. Mengapa ada perusahaan yang mampu untuk terus tumbuh dan berkembang, sementara banyak pula yang sama sekali tak mampu demikian? Faktor utama kelanggengan eksistensi dari setiap legendary company tak lain adalah adanya totalitas komitmen dalam pelaksanaan misi dan visi perusahaan.

Misi dan visi perusahaan, yang merupakan cerminan dari nilai-nilai yang dianut oleh para karyawan, benar-benar dipegang teguh secara walk the talk oleh setiap legendary company. Tidak hanya berupa plakat tergantung di dinding, template standar dalam komputer desktop karyawan, cetakan indah dalam berbagai dokumen resmi perusahaan seperti kops surat, kartu nama, brosur, laporan tahunan, dll., ataupun syair dan lagu yang didendangkan dalam acara resmi perusahaan. Mulai dari jajaran manajemen puncak hingga staf pelaksana di tingkat paling bawah sekalipun, senantiasa konsisten pikiran dan tindakannya, mengelola perusahaan sejalan dengan misi dan visi yang telah ditetapkan. Sehingga seandainya pun misi dan visi perusahaan tidak pernah dinyatakan secara formal, namun dalam keseharian hal ini terasa nyata diimplementasikan.

Sumitomo Group sebagai contohnya. Misi yang dimiliki perusahaan ini sejak berdirinya 400 tahun yang lalu adalah “making great company that serves society, membuat perusahaan hebat yang melayani masyarakat”. Hal ini berarti bahwa semua aktifitas perencanaan perusahaan dijalankan dalam perspektif jangka panjang. Bahwa jika benih yang kita tanam saat ini belum mampu menghasilkan sesuatu untuk generasi kita, maka jangan berhenti dan terus saja menanam, karena generasi penerus kitalah yang akan menikmati buahnya nanti. Dengan totalitas komitmen terhadap misi dan visi tersebut, Sumitomo Group hingga kini dapat terus memberikan manfaat atas perkembangan dan pertumbuhannya kepada ratusan ribu karyawan beserta keluarganya, para pelanggan, para pemasok, mitra kerja sama, dan pemegang saham, yang tersebar di berbagai unit bisnis di seluruh dunia, mulai dari real estat, petrokimia, pertambangan, manufaktur, konstruksi, bank, hingga asuransi.

Oleh karena totalitas komitmen atas misi dan visi ini begitu pentingnya dalam keberlanjutan hidup perusahaan di masa mendatang, maka sejak awal pendirian perusahaan haruslah pula diupayakan secara benar.

Misi perusahaan adalah alasan dibalik mengapa perusahaan itu didirikan (why), sedangkan visi perusahaan adalah cita-cita terkait sebagai siapa perusahaan itu akan dikenal (who). Misi dengan demikian berupa aktifitas utama yang dilakukan oleh perusahaan (to do), sedang visi berupa identitas utama yang dituju oleh perusahaan (to be). Setiap perusahaan pada hakikatnya adalah misionaris visioner, yang fokus mengemban misi tertentu (spesifik) di dunia ini dalam meraih cita-citanya. Tentu saja hal ini harus dapat membahagiakan dan memberi energi kebahagiaan yang tiada habis-habisnya (bermakna), sehingga pada akhirnya totalitas komitmen dalam melaksanakannya, merupakan hal yang tidak muluk dan realistis, seperti apa yang telah dibuktikan oleh para legendary companies.

Diantara perusahaan yang sudah memulainya dengan benar, menuju arah legendary company antara lain adalah Google, Facebook, Mercedes Benz, dan BMW. Misi Google adalah “to organize the world’s information and make it universally accessible and useful“. Misi Facebook adalah “to give people the power to share and make the world more open and connected”. Misi Mercedes Benz dalam motonya adalah “the best (car) or nothing”. Sedang misi BMW dalam motonya adalah “the ultimate driving machine”. Mereka semua masing-masing berfokus secara spesifik dalam why & who perusahaan, sekaligus memberi makna kebahagiaan, serta realistis. Waktulah yang akan menguji kemudian apakah perusahaan-perusahaan ini benar akan melegenda dalam seratus tahun ke depan ataukah hanya akan menjadi kenangan.

Sebab organisasi itu adalah organisme, sesuatu yang hidup, yang senantiasa terus mengalami transformasi dan perubahan terhadap berbagai dinamika yang terjadi di luar dirinya. Terhadap perubahan geo-politik-ekonomi, sosial-budaya, teknologi, hukum, dll. Hanya yang berkomitmen total pada misi dan visinya lah, yang akan dapat kokoh bertahan untuk terus tumbuh dan berkembang. Pertanyaannya sekarang, sudahkah perusahaan kita merumuskan misi dan visi berdasar nilai-nilai yang kita yakini? Sudahkah why & who itu memenuhi prinsip fokus - spesifik - membahagiakan? Bila sudah, teruslah upayakan sosialisasi dan internalisasi terhadapnya setiap hari. Terhadap strategi, sistem, program, dan kebijakan apapun di dalam perusahaan. Karena hal itulah yang dilakukan oleh semua perusahaan legendaris dunia: sebuah totalitas komitmen. No compromise.

NB:
Ide tulisan ini berangkat dari keprihatinan bahwa banyak sekali organisasi yang misi dan visi nya hanya sebatas formalitas belaka, sebagai syarat pelengkap bila dilakukan audit yang memerlukan. Setengah hati dan mediocre saja dalam berusaha. Sebuah kementerian negara bermisi muluk mewujudkan masyarakat adil dan makmur, tanpa fokus spesifikasi aktifitas utama, apalagi energi kebahagiaan. Sebuah perusahaan negara dengan bisnis utama pertambangan, bermisi muluk menyediakan layanan berkelas dunia. Sementara bisnis di luar pertambangan pun dijalankannya, mulai dari perhotelan, rumah sakit, penerbangan, perkapalan, asuransi, perdagangan umum, dan banyak lagi puluhan bisnis lainnya. Sama sekali tak memiliki fokus dan spesifikasi identitas, apalagi makna kebahagiaan walaupun dinaungi oleh negara. Sebuah lembaga pelatihan kepemimpinan, bermisi muluk mewujudkan negara yang lebih baik. Namun berbisnis pula macam-macam mulai dari tour & travel, perhotelan, properti, jasa katering, dan berbagai bisnis lainnya, sehingga tidak jelas lagi perusahaan apakah ini sebenarnya. Dan banyak lagi organisasi serupa lainnya. Semoga tulisan sederhana ini sedikit banyak mampu menginspirasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Fondasi Perubahan

Manakah yang lebih penting untuk dibangun dan dikembangkan guna kesuksesan perusahaan dan organisasi: people, leadership, competency, the driver factors, ataukah system, management, technology, the enabler factors?
Orang yang tidak tepat, pejabat lama yang tidak kompeten, langsung bisa diganti dengan pejabat baru. Tetapi bila sistem manajemennya tetap tiada berubah, dapat dipastikan tidak akan ada kejutan kinerja istimewa apapun dari pejabat baru tersebut. Lambat laun, seiring waktu, si pejabat ini juga akan digantikan lagi dengan orang yang baru. Insinyur terbaik di dunia sekalipun tidak akan berdaya bila masuk ke dalam organisasi yang lembam dan menutup diri dengan perubahan. 
Begitu pula, sistem yang lawas dan sudah tertinggal jauh, langsung bisa diganti dengan yang paling updated. Tetapi bila karyawan belum siap dan terbiasa menggunakannya akan percuma belaka. Betapa banyak kebijakan, prosedur, Undang-Undang, sistem aplikasi, rencana strategis, bahkan slogan dan iklan sosialisasi…

Avengers: Infinity War

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Anthony Russo, Joe Russo
Pemain: Benedict Cumberbatch, Chris Evans, Chris Hemsworth, Robert Downey Jr., Scarlett Johansson, Zoe Saldana
Genre: Action Sci-Fi

CERITA: 
Captain America, Black Panther, Doctor Strange, Hulk, Iron Man, Spiderman, Thor, dll. tergabung dalam Avengers, regu super hero penyelamat bumi, bersatu untuk ngalahin Thanos, musuh terkuatnya sampe saat ini, dalam semesta raya Marvel Comics. Bukan sekedar tokoh jahat yang harus dilawan bareng, Thanos juga punya nilai idealismenya sendiri. Ada humor, romansa, ancaman-kali ini-tingkat semesta, ditutup dengan perang kolosal. Ya 100% persislah dengan film Marvel Superheroes yang lain. Ceritanya ngebosenin, karena banyak banget pemainnya, sementara porsi tampil harus diatur dalam durasi 2,5 jam. Jadi sepanjang film adegannya cuma tempur dan tempur, ledakan dan ledakan. Rada tanggung juga karena ternyata film ini bagian pertama dari 2 film, jadi bersambung. Rilis lanjutannya tahun depan... Capek deh