Langsung ke konten utama

Opsi Strategi


Dalam persaingan di bidang apapun terdapat juara, the number one, yang mutlak mengungguli semua pesaingnya. Mulai dari kejuaraan sekolah, pertandingan olahraga, persaingan bisnis, pemilihan umum, perang militer, hingga indeks peringkat negara di dunia seperti Human Development Index atau Global Competitiveness Index, semuanya menggambarkan dengan jelas, bahwa memenangkan persaingan berarti meraih keberhasilan, mencapai suatu hal yang relatif penting dan bernilai sebagai tujuan. Cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan ini disebut dengan strategi, sebuah game plan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Strategi, dengan demikian berfokus kepada tujuan penting dan bernilai yang ingin dicapai (goal-oriented), bercerita tentang masa depan dan bukan masa lalu (future-oriented), serta merupakan langkah yang akan ditempuh secara disiplin dan konsisten (action-oriented).

Prinsip-prinsip ini secara umum adalah sama penerapannya di semua aspek kehidupan. Mulai dari strategi Gerilya Pangeran Diponegoro, strategi Restorasi Meiji Jepang, strategi Revolusi Kebudayaan Cina, strategi Definitely Dubai, strategiHappiness Coca-Cola, hingga strategi Yes We Can Obama-Biden. Namun artikel ini akan membahas secara khusus tentang strategi perusahaan saja. Hal mana yang dalam proses perumusannya dilakukan setelah adanya misi dan visi perusahaan, serta setelah ditetapkannya sasaran dan tujuan yang ingin dicapai.

Dari berbagai kajian para ahli manajemen seperti C.K. Prahalad, David P. Norton, Henry Mintzberg, Kenichi Ohmae, Michael Goold, Michael Porter, Robert S. Kaplan, Tom Peters, dll., dapat disimpulkan bahwa strategi perusahaan haruslah diformulasikan oleh tim manajemen tingkat atas. Bila berupa single business company, maka strategi yang dirumuskan itu tak lain adalah strategi pemasaran perusahaan. Sebagaimana Philip Kotler pernah mengatakan bahwa pada dasarnya perusahaan itu adalah “marketing plus others”. Artinya, setelah jelas pemasarannya seperti apa maka barulah fungsi-fungsi yang lain dapat dijalankan secara efektif. Berbisnis adalah memasarkan suatu hal tertentu untuk menghasilkan penjualan dan pemasukan. Al Ries, pakar strategi pemasaran, menjelaskan lebih lanjut bahwa seyogyanya Chief Executive Officer yang baik merupakan Chief Marketing Officer, karena pemasaran bukanlah tugas sebuah departemen saja melainkan elemen inti perusahaan. Bahkan Peter Drucker menekankan bahwa “marketing and innovation produce results, the rests are cost”. Bisnis, pada kenyataannya, hanya mempunyai 2 fungsi dasar, yakni pemasaran dan inovasi.

Namun lain halnya bila berupa multi business company, konglomerasi, ataupun banyak perusahaan di bawah satu tim manajemen yang sama. Dalam hal ini pemasaran tidak lagi menjadi poros utama strategi perusahaan, melainkan tentang investasi, bagaimana menarik keuntungan maksimal dari setiap sumber daya yang dimiliki. Strategi pun terbagi dan dirumuskan ke dalam 3 tingkatan, yaitu: Corporate Level Strategy (Grand Strategy), Business Level Strategy, dan Functional Level Strategy. Ketiga tingkat strategi ini dirumuskan secara hirarkis dan selaras sebagai sebuah kesatuan yang utuh (goal congruence).

1. Grand Strategy.
Merupakan strategi utama perusahaan yang menjadi poros acuan bagi strategi-strategi di bawahnya. Strategi di level ini dijalankan oleh “Kantor Pusat” Perusahaan/Induk Perusahaan/Corporate Parent/Holding Company. Bagaimana menggunakan semua sumber daya perusahaan untuk memberikan nilai (value creation) kepada semua bisnis yang dimiliki, sehingga menghasilkan keuntungan yang maksimal (investment return) dalam jangka waktu yang panjang (sustainability development), adalah inti dari Grand Strategy. Membuat bisnis baru atau investasi baru, melakukan akuisisi atau merger, melikuidasi atau divestasi bisnis tertentu, melakukan transformasi atau restrukturisasi, menggenggam atau melepas kemandirian finansial unit bisnis, semua ini merupakan Grand Strategy.

2. Business Level Strategy.
Merupakan strategi bisnis seperti halnya strategi pemasaran pada single business company yang mendukung pelaksanaan Grand Strategy. Strategi di level ini dijalankan oleh “Kantor Cabang” Perusahaan/Divisi Bisnis/Anak Perusahaan/Strategic Business Unit/Subsidiary Company. Bagaimana menghasilkan revenue sebanyak-banyaknya dari semua portofolio produk atau jasa yang dimiliki, dengan cara pemasaran yang paling efektif, adalah inti dari Business Level Strategy.

3. Functional Level Strategy.
Merupakan strategi yang dijalankan di luar Grand Strategy dan Business Level Strategy, namun tetap selaras dan kongruen terhadap keduanya. Strategi di level ini dijalankan oleh fungsi/unit perusahaan baik yang ada di “Kantor Pusat” maupun “Kantor Cabang”. Misalnya urusan sertifikasi dan perijinan, yang walaupun terdapat aktifitasnya baik di kantor pusat maupun di kantor cabang, namun bukanlah Grand Strategy danBusiness Level Strategy. Karena, hal ini tidak terkait langsung dengan dihasilkannya keuntungan finansial perusahaan, yang menjadi harapan para pemilik (shareholders), seperti halnya investasi dan pemasaran.

Strategi perusahaan yang sudah dirumuskan tersebut, bila dimasukkan ke dalam suatu tata urutan waktu pelaksanaan yang rinci, disebut dengan rencana strategis perusahaan. Strategis dalam hal ini berarti, apa yang sudah dirumuskan akan berdampak besar di masa depan bagi kehidupan perusahaan. Praktek umum di berbagai perusahaan, rencana strategis ini meliputi: pemetaan situasi internal dan eksternal (TOWS analysis), arah strategis (strategic direction), tujuan dan sasaran (goals & objectives), strategi perusahaan (single/multi business strategy), desain struktur organisasi (structure follows strategy), program kerja (who-what-when-where-with whom-how), faktor utama keberhasilan pelaksanaan (key success factors), ukuran-ukuran keberhasilannya (key performance indicators), serta skenario penanganan kejadian krisis (risks management alternatives). Atau secara sederhana, rencana strategis perusahaan berusaha menjawab 4 pertanyaan penting, yaitu: “Where are we now?”, “Where do we want to go?”, “How do we get there?”, dan “Did we get there?”.

Jangka waktu rencana strategis perusahaan ini biasanya ditetapkan untuk 5 tahun, 10 tahun, bahkan ada yang hingga 20 tahun ke depan, oleh tim manajemen tingkat atas yang sudah terbiasa dalam perumusannya. Di dalam jangka waktu tersebut, strategi yang sudah dirumuskan akan didukung pelaksanaannya oleh segenap sumber daya (finansial-material-SDM-jaringan-teknologi) serta sistem manajemen (business process-policy-procedure) yang dimiliki perusahaan. Namun McKinsey Inc. memberikan kesimpulan yang cukup mengejutkan, bahwa adalah muluk di abad ini, untuk merumuskan rencana strategis dalam jangka waktu lebih dari 3 tahun ke depan. Hal ini karena tren dan perubahan terjadi sedemikian cepatnya, sehingga pandangan, asumsi, serta panduan yang kaku terhadap aspek bisnis perusahaan tidak pernah lagi akan relevan. Muluk sekali untuk bisa meramalkan keadaan bisnis dalam jangka waktu yang panjang.

Oleh karena itu, yang terpenting bukanlah sekedar merumuskan sebuah game plan, Master Plan, Blue Print, Road Map, Grand Design, Rencana Strategis, Rencana Jangka Panjang, Garis Besar Haluan, atau apapun juga namanya, namun menjalankannya dengan segenap kesungguhan, totalitas komitmen, kedisiplinan, konsistensi, serta adaptifitas terhadap perubahan. Kepemimpinan, inilah kunci dari setiap keberhasilan pelaksanaan strategi perusahaan. Terutama sekali adalah kepemimpinan yang dijalankan oleh tim manajemen tingkat atas. Karena strategi dan segenap perumusannya hanyalah alat dan kendaraan (enabler), yang mutlak memerlukan pengguna dan pengendara (driver). Kepemimpinan lah yang memegang peran besar utama dalam upaya perusahaan untuk mencapai tujuan. Pemimpinnya terlebih dahulu, barulah kemudian opsi strateginya.

“Greater is an army of sheep led by a lion, than an army of lions led by a sheep” ~Daniel Defoe~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Empati Prabowo

Banyak yang tanya mengapa Prabowo. Alasan saya sederhana saja. Waktu itu akhir tahun 2008. Saat itu saya masih bekerja di Arbe Styrindo, sebuah perusahaan B2B Petrokimia yang pabriknya berlokasi di Cilegon, Banten. Saya berkantor di Jakarta beserta unit G&A lainnya tepatnya di Sampoerna Strategic Square.
Tahun-tahun itu partai Gerindra banyak beriklan di TV. Tidak sekalipun saya simpatik. Saya juga dengar pimpinannya Pak Prabowo adalah aktor intelektual kerusuhan mei 98, dalang penculikan mahasiswa, pernah lari ke Yordania, dsb. Tapi dalam salah satu kunjungan saya ke pabrik kami waktu itu, pandangan saya berubah perlahan. Kepala Security pabrik kami yang cukup berumur, Pak Agus, suatu kali menceritakan tentang Komandannya, Jenderal Prabowo. Kebetulan Pak Agus adalah salah satu pensiunan prajurit TNI yang pernah mengenal, melihat, dan merasakan langsung kepemimpinan Sang Jenderal.
Pak Prabowo dalam pandangan Pak Agus adalah sosok yang berani dan peduli kepada anak buahnya. Kalo P…