Langsung ke konten utama

Researching of Meaning


Kehilangan adalah sesuatu hal yang tak mengenakkan, dirasa berat, dan sedikit menyakitkan bagi manusia pada umumnya. Entah itu kehilangan orang yang dicintai, kehilangan harta benda, kehilangan mata pencaharian, kehilangan jabatan, kehilangan organ tubuh, kehilangan kemampuan fisik, kehilangan kemerdekaan sipil, kehilangan harga diri, kehilangan pelanggan, kehilangan gelar, kehilangan pesona, kehilangan kasih sayang, dan berbagai macam bentuk kehilangan lainnya, baik yang kecil maupun besar. Bahkan tak jarang, kehilangan seringkali pula disebut petaka atau bencana karena tak dapat tergantikan lagi.

Namun sesungguhnya, kehilangan yang terbesar, yang tertinggi kerugiannya, hilang yang benar-benar hilang bila dibandingkan dengan semua jenis kehilangan, adalah kehilangan akan arti kehidupan. Dari bangun tidur di pagi hari hingga tertidur kembali di malam hari, seseorang yang kehilangan akan arti kehidupan, tidak menyadari sepenuhnya tentang keberadaannya di dunia ini. Ketika menempuh pendidikan, hanya mengejar titel secepat, sebanyak, & setinggi mungkin, hingga tak pernah menghasilkan sedikitpun inovasi sosial keilmuan. Ketika bekerja, demikian kerasnya, tak kenal lelah, dari pagi hingga larut malam, berpeluh keringat dan menyisakan penat, sampai mengabaikan sederet hal penting lainnya. Ketika memiliki keluarga, selalu meributkan hal sepele setiap hari, seringkali menyelesaikannya dengan KDRT, hingga akhirnya berujung pada perceraian, karena tak pernah benar-benar mengerti kenapa ia berkeluarga. Ketika punya harta yang sangat melimpah dan popularitas yang tinggi, justru merasa hampa dan terasing karena semua hal terasa biasa saja. Ketika memiliki kekuasaan yang besar, berlaku zalim terhadap begitu banyak orang, dan menghilangkan nyawa manusia demi kekuasaannya, hingga tercatat sebagai diktator sepanjang sejarah. Bahkan ketika berdoa, berjilbab, berhaji, menghapal kitab suci, rajin dan taat beribadat sekalipun, tak pernah ia memahami benar apa yang sesungguhnya ia perbuat.

Kehilangan arti, makna, hakikat, logos, kesadaran, identitas, kesejatian, motivasi, atau spirit terhadap kehidupan itu sendiri, tak ubahnya menyamakan manusia dengan hewan. Bila manusia membangun rumah, hewan pun melakukan hal yang sama dengan membangun sarang. Bila manusia mencari nafkah, maka hewan pun memberi makan anak-anaknya. Bila manusia berkuasa, maka ada juga hewan yang berkuasa terhadap hewan-hewan lainnya. Demikian pula halnya dalam melestarikan keturunannya masing-masing. Hingga tak tahu mengapa, suatu ketika mengemuka sebuah peribahasa: qui fecit quod non sapit definitur bestia, who did what he does not understand is defined as an animal.

Kehilangan arti kehidupan itu sendiri, secara mikro maupun makro, secara personal atau kolektif, saat beraktifitas maupun diam, merupakan kehilangan yang sebenar-benarnya. Kehilangan yang membuat waktu terasa demikian cepat berlalu. Entah terhabiskan dimana, untuk apa, bersama siapa, dan mengapa. Dan bagi sebagian orang yang kerap akrab dengan kekecewaan, putus asa, bingung, hampa, serta lelah & kesal kepada nasibnya sendiri, pada suatu titik yang ekstrem, harus berakhir di rumah sakit jiwa, kelompok anti sosial, terorisme, penyimpangan perilaku seks, narkotika, psikoterapi kelompok, guru spiritual, bahkan bunuh diri. Miliaran manusia datang dan pergi, abad dan zaman silih berganti, generasi demi generasi, berbagai suku, bangsa, dan negara, mencari kembali sebuah arti.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Fondasi Perubahan

Manakah yang lebih penting untuk dibangun dan dikembangkan guna kesuksesan perusahaan dan organisasi: people, leadership, competency, the driver factors, ataukah system, management, technology, the enabler factors?
Orang yang tidak tepat, pejabat lama yang tidak kompeten, langsung bisa diganti dengan pejabat baru. Tetapi bila sistem manajemennya tetap tiada berubah, dapat dipastikan tidak akan ada kejutan kinerja istimewa apapun dari pejabat baru tersebut. Lambat laun, seiring waktu, si pejabat ini juga akan digantikan lagi dengan orang yang baru. Insinyur terbaik di dunia sekalipun tidak akan berdaya bila masuk ke dalam organisasi yang lembam dan menutup diri dengan perubahan. 
Begitu pula, sistem yang lawas dan sudah tertinggal jauh, langsung bisa diganti dengan yang paling updated. Tetapi bila karyawan belum siap dan terbiasa menggunakannya akan percuma belaka. Betapa banyak kebijakan, prosedur, Undang-Undang, sistem aplikasi, rencana strategis, bahkan slogan dan iklan sosialisasi…

Avengers: Infinity War

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Anthony Russo, Joe Russo
Pemain: Benedict Cumberbatch, Chris Evans, Chris Hemsworth, Robert Downey Jr., Scarlett Johansson, Zoe Saldana
Genre: Action Sci-Fi

CERITA: 
Captain America, Black Panther, Doctor Strange, Hulk, Iron Man, Spiderman, Thor, dll. tergabung dalam Avengers, regu super hero penyelamat bumi, bersatu untuk ngalahin Thanos, musuh terkuatnya sampe saat ini, dalam semesta raya Marvel Comics. Bukan sekedar tokoh jahat yang harus dilawan bareng, Thanos juga punya nilai idealismenya sendiri. Ada humor, romansa, ancaman-kali ini-tingkat semesta, ditutup dengan perang kolosal. Ya 100% persislah dengan film Marvel Superheroes yang lain. Ceritanya ngebosenin, karena banyak banget pemainnya, sementara porsi tampil harus diatur dalam durasi 2,5 jam. Jadi sepanjang film adegannya cuma tempur dan tempur, ledakan dan ledakan. Rada tanggung juga karena ternyata film ini bagian pertama dari 2 film, jadi bersambung. Rilis lanjutannya tahun depan... Capek deh