Langsung ke konten utama

Nilai Budaya


Kalau anda bertemu dengan seorang sarjana di perusahaan kita, mungkin dia adalah seorang staff atau supervisor. Kalau anda bertemu dengan seorang magister di perusahaan kita, mungkin dia adalah seorang manager, general manager, atau bahkan seorang direktur. Tapi kalau anda bertemu dengan seseorang di perusahaan kita, yang walaupun hanya tamatan SD saja, namun jujur, melayani, profesional, dan tulus, maka tak salah lagi dia adalah owner dari perusahaan kita. Demikian ujar Teddy Rachmat, sang Jack Welch nya Indonesia, di dalam berbagai kesempatan.

Orang yang mendengarkannya tentu paham. Yang dimaksud beliau adalah bahwa budaya, nilai-nilai perusahaan yang dijunjung tinggi, harus tampak pada perilaku karyawan, tak peduli apapun gelar akademiknya. Dan bagaimana semua karyawan dapat berperilaku sesuai nilai-nilai perusahaan, itu jauh lebih penting daripada sekedar berkumpul bersama, beraktifitas bersama, sibuk bersama setiap hari mencapai tujuan, namun tidak dilandaskan pada nilai-nilai yang kokoh. Maka banyak sekali perusahaan yang mengalami krisis kepemimpinan, dimana kepatuhan dan loyalitas karyawan adalah karena status pangkat dan jabatan para pimpinannya semata, bukanlah sebuah voluntary followership. Tak pelak hal ini berdampak pada kinerja yang biasa-biasa saja, motivasi yang lesu, daya inovasi yang rendah, renggangnya kerja sama tim, tingginya employee turnover, serta ketiadaan minat belajar dan pengembangan diri dari karyawan. Sebabnya adalah semata-mata karena budaya perusahaan yang belum dikelola secara serius oleh Manajemen.

Padahal untuk mengelolanya tidaklah sulit. Tidak dibutuhkan para konsultan manajemen terkenal untuk merumuskan nilai-nilai perusahaan lengkap dengan indikator perilakunya sehari-hari, agen-agen komunikasi massa untuk membuat plakat, piagam, poster, banner, kaos, film, lagu, dan berbagai media sosialisasi nilai-nilai perusahaan tersebut kepada karyawan, ataupun para trainer untuk menginternalisasikannya melalui program pelatihan kepada para change agents atau bahkan seluruh karyawan secara masif bertahap. Sehingga sebelum dieksekusi Manajemen langsung mengurungkan niatnya mengingat tingginya biaya investasi yang harus dikeluarkan serta return yang kurang tangible dalam waktu dekat.

Baru-baru ini tim kami mewawancarai karyawan sebuah perusahaan printing di sela menunggu penyelesaian order pencetakan handout materi pelatihan. Betapa terkagumnya kami, karyawan disana, yang berjumlah sekitar 50 orang, ternyata masa kerjanya sama dengan usia perusahaan beroperasi. Karena dari awal berdiri hingga sekarang, karyawannya masih yang itu-itu juga. Bisa dikatakan hanya satu dua orang saja yang baru sebagai penambahan karyawan bukan penggantian. Setelah kami gali, penyebab loyalnya mereka tak lain adalah budaya perusahaan. Bagaimana mereka mendapatkan gaji yang sesuai pasaran tenaga kerja, setiap bulannya mendapatkan insentif, apapun jabatannya seperti halnya hotel dan restoran dengan konsep service charge nya, setahun sekali mendapatkan THR dan bonus tahunan, mendapatkan jaminan BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan, mendapatkan uang lembur, cuti 12 hari kerja, cuti khusus 10 hari saat Hari Raya sesuai agama masing-masing. Disamping itu, setahun sekali ada acara tahunan kumpul bersama keluarga yang difasilitasi oleh perusahaan dengan berbagai hadiah seperti program umroh dan aneka hiburan yang menyenangkan. Manajemennya pun dapat dihubungi kapan saja untuk berdialog dan berdiskusi, kadang kala ikut melayani pelanggan sehari-hari, ramah dan bersahabat seakan tiada jarak dengan karyawannya. Singkatnya golden rule yang berasal dari Bible "do to others as you would have them do to you" benar-benar dipegang teguh oleh Manajemen perusahaan ini.

Bagaimana? rasanya tidak sulit bukan untuk menumbuhkan loyalitas dan mengembangkan budaya perusahaan itu? Sebuah perusahaan kecil tersebut di atas menjadi contohnya. Dalam membangun nilai budaya perusahaan, yang dibutuhkan hanyalah konsistensi antara aturan dan pelaksanaan, take and give, serta komunikasi yang baik. Dengan budaya perusahaan yang terkelola, semua orang akan menjadi pemilik perusahaan, working like it is their own company, seeing themselves not as passive victims but an active agents. Beyond sticks and carrots there is heart of people: values, culture.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Black Panther

Tahun produksi: 2018
Sutradara: Ryan Coogler
Pemain: Chadwick Boseman, Forest Whitaker, Lupita Nyong'o, Martin Freeman, Michael B. Jordan
Genre: Action Sci-Fi

CERITA:  Raja baru dari Wakanda, negara dengan teknologi tinggi tapi terisolasi dari dunia luar dalam semesta raya Marvel Comics, berjuang langgengin trah kekuasaan. Konflik demi konflik dilalui T'Challa sang raja sampe akhir film. Tipikal banget dengan film Marvel Superheroes, ada sedikit humor, bumbu romansa, drama dendam masa lalu, sama ancaman tingkat dunia. Lagi, ujung-ujungnya ditutup dengan perang kolosal, superhero nya sudah pasti menang. Mirip dengan cerita film Thor, bedanya kerajaan Wakanda di bumi, tepatnya di benua Afrika. Mirip juga tokoh jagoannya dengan James Bond, ada laboratorium sama penelitinya yang kenalin senjata-senjata si Black Panther. Ceritanya mengalir, bikin yang nonton mantengin terus dari awal sampe abis. Terutama dunia futuristik teknologi tingginya yang menarik. Drama konfliknya cukup menyentuh…

Berkelas Dunia

Ada perbedaan mendasar antara perusahaan Global dengan perusahaan World Class. Perusahaan global berarti ada kegiatan operasi bisnis yang terjadi secara global, lintas negara, multi-national corporations, tidak memandang skala usaha. Asalkan sudah membuka kantor perwakilan di berbagai negara, perusahaan globallah ia. Sedang perusahaan kelas dunia berarti ada skala ekonomi bisnis tingkat dunia, kapitalisasi pasar yang sangat besar, dimana kebijakan strategis yang diambil perusahaan dapat mengubah lanskap industri dan kehidupan masyarakat dunia. Singkatnya, walau tak memiliki kantor perwakilan di berbagai negara namun pengaruhnya terasa ke seluruh dunia. 
Menurut Profesor Bartlett dari Harvard Business School, istilah perusahaan global itu sendiri sudah cukup usang, karena siapapun kini bisa berinteraksi secara global melayani pelanggan dari berbagai negara, kapanpun, dimanapun. Yang kemudian membedakannya dengan perusahaan kelas dunia adalah skala ekonomi bisnisnya. Apakah sebesar per…

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…