Langsung ke konten utama

Zaman Now


Hari-hari ini kerap terdengar bahwa kita tengah memasuki Era Disruptif, VUCA, The Fourth Wave, The Internet of Things, era dimana perubahan cepat sekali terjadi hampir di semua sendi kehidupan. Adalah fakta bahwa saat tulisan ini dibuat, China yang notabene sebuah negara komunis sudah mengambil alih posisi Jepang sebagai negara kedua dengan tingkat ekonomi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Di saat bersamaan, China bahkan merupakan negara eksportir terbesar yang menyuplai kebutuhan hampir seperlima populasi dunia. Sebanyak 70% transaksi pembayaran di negara ini dilakukan secara online khususnya di kota-kota besar. The Rise of Asia, demikian para pengamat menyebutnya, dimana pengaruh barat mulai menurun secara signifikan dalam kancah perekonomian global.

Kita juga menyaksikan terjadinya gelombang perubahan politik yang sangat masif di berbagai negara, dari rezim-rezim otoriter menuju demokrasi. Bermula dari Tunisia, yang terkenal dengan sebutan Arab Spring, merambah ke berbagai negara. Yaman, Mesir, Bahrain, Libya, Suriah, Zimbabwe, bahkan Hongkong. Rakyat turun ke jalan menyuarakan tuntutannya, memobilisasi protes massa sedemikian rupa, dan percaya atau tidak, dengan menggunakan Social Media seperti Facebook atau Twitter serta Instant Messenger seperti BBM atau WhatsApp. Beberapa berhasil menggulirkan demokrasi, namun ada pula yang gagal bahkan justru memicu perang tak berkesudahan hingga kini.

Teknologi internet berpita lebar dalam laporan McKinsey kini disebut sejajar kedudukannya dengan infrastruktur seperti bandara, pelabuhan, jalan tol, atau pembangkit tenaga listrik. Internet berkontribusi sebesar 21% terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam perayaan Single Day tahun ini di China, Alibaba memproses 256.000 transaksi per detiknya atau sebanyak 1,48 Milyar transaksi dalam sehari, dengan nilai pembelanjaan sebesar 25 Milyar Dolar. Empat kali lebih besar dari perayaan Cyber Monday dan Black Friday di Amerika. Dalam sehari di seluruh dunia, ada 5 Milyar video yang ditonton di Youtube. Mulai dari video klip bergenre pop “Hello” oleh Adele, yang ditonton sebanyak 1 Milyar kali dalam kurun waktu tak kurang 3 bulan saja, hingga video klip bergenre dangdut keroncong seperti “Sayang” oleh Via Vallen atau “Jaran Goyang” oleh Nella Kharisma, yang masing-masing sudah ditonton sebanyak lebih dari 100 Juta kali. Di lain sisi, ancaman serangan siber dinilai sama berbahayanya dengan serangan nuklir. Sungguh suatu hal yang tak pernah terfikirkan sebelumnya.

Baruch Lev dari Brookings Institute menemukan pula suatu paradoks bahwa untuk menanamkan modalnya kini para investor lebih meninjau prediksi kinerja di masa depan dari sebuah perusahaan dan bukan laporan kinerjanya di masa lampau. Hal ini jamak dialami oleh perusahaan Start-Up khususnya yang berbasiskan bisnis digital di tangan para investor Venture Capital. Uber, Start-Up asal California, yang memiliki valuasi hampir 1000 Triliun Rupiah, dan beroperasi di 400-an kota di dunia, bahkan memiliki paradoksnya tersendiri. Perusahaan ini tidak memiliki satupun aset armada transportasi umum yang disediakan kepada para pelanggannya. Begitu pula halnya Airbnb yang tidak memiliki satupun aset penginapan yang disewakannya, dan banyak lagi Start-Up lainnya yang serupa di berbagai belahan dunia.

Menjadi CEO dari suatu korporasi besar, Konglomerat, ataupun Pimpinan Negara, pun tidak melulu didominasi oleh pria atau mereka yang berusia tua. Facebook, IBM, General Motors, World Bank, IMF, The Fed, dan banyak lagi perusahaan serta organisasi dunia lainnya kini dipimpin seorang perempuan. Di tingkat negara, Australia, Brazil, Inggris, Jerman, Korea Selatan, sebagai contohnya, dalam 5 tahun terakhir juga dipimpin oleh perempuan. Pun sebanyak 10 orang terkaya di dunia saat ini berusia di bawah 50 tahun. Beberapa diantaranya sama sekali tidak memiliki bisnis berbasis sumber daya alam seperti minyak bumi atau kelapa sawit, serta meraih kekayaannya secara langsung dan bukan merupakan generasi kedua atau ketiga dari kerajaan bisnis yang didirikan oleh keluarga mereka. Sedangkan Emmanuel Macron, Jacinda Ardern, dan Sebastian Kurz, adalah segelintir nama yang ketika dilantik untuk memimpin negaranya masing-masing masih berusia di bawah 40 tahun.

Belum lagi munculnya fenomena Cryptocurrency, Blockchain, atau Bitcoin. Driverless Car. Flying Car. Hyperloop. Artificial intelligence. Synthetic Genome. Daftar ini bisa menjadi lebih panjang lagi. Temuan demi temuan membawa kemajuan bagi umat manusia yang jumlahnya kian mendekati 8 Milyar populasi. Namun pula, seakan mengiringi munculnya kemajuan yang dahsyat itu, bencana alam besar seperti halnya Tsunami Jepang dan Badai Harvey semakin sering terjadi. Semakin besar perubahan yang bergulir makin kompleks pula tantangan dan rintangan yang hadir kemudian.

Maka momen yang tepat bilamana di penghujung 2017 ini kita bersama-sama merenung diri, menyambut 2018 yang sebentar lagi akan dirayakan di seluruh dunia. Gegap gempita pergantian tahun yang lazimnya identik dengan perubahan merupakan suatu turning point tersendiri bagi diri kita untuk menapaki masa depan yang kian penuh tantangan dan rintangan.

Pun terhadap segala perubahan yang terjadi di dunia ini dapat kita arungi dengan baik dan lancar setidaknya dengan memelihara 4 kebiasaan unggul sebagai berikut:

Pertama, thinking the changes. Selalu lihat dan cermati semua perubahan yang terjadi. Kita harus mampu menangkap sesuatu persoalan dengan mikroskop dan teleskop. Mengambil manfaatnya yang terdekat dengan kehidupan kita serta memproyeksikan dampaknya jauh di masa depan sesuai nilai-nilai yang kita yakini. Kedua, facing the realities. Selalu siap dan fleksibel menghadapi kenyataan. Fakta-fakta baru, data-data baru, peluang dan kesempatan baru adalah jalan bagi kita untuk meluaskan pandangan dan optimisme, mengganti kaca mata kuda yang mungkin selama ini terus kita kenakan dan sulit kita lepaskan. Ketiga, growing the skills. Selalu belajar dan kembangkan diri. 24/7 dimanapun dan kapanpun, kita bisa meningkatkan daya kreatifitas kita nyaris tanpa batas. Lebih efektif, lebih efisien, lebih berkualitas, semuanya dimulai dengan pembelajaran dan peningkatan keterampilan. Terakhir, contributing the society. Selalu berkarya yang terbaik dan berbuatlah manfaat sebanyak-banyaknya. Dimanapun kita berada, ambil bagian dan jadilah produktif serta prestatif. Apalagi bila terjadi tragedi dan masa-masa sulit. “If you can’t feed a hundred people, then feed just one” ujar Bunda Teresa. Kitalah yang membuat perubahan, kitalah yang selama ini ditunggu oleh dunia, ujar Barack Obama.

Di dunia usaha banyak yang mampu untuk memulai (start-up) namun tak mampu untuk membesarkan (scale-up), banyak yang terlatih untuk berkompetisi sprint namun tak bertahan untuk memenangkan kompetisi marathon. Mengapa? Jawaban singkatnya, karena tidak berubah, tidak mengikuti zaman now, tidak memelihara kebiasaan-kebiasaan unggul. Selamat datang perubahan. Selamat tahun baru 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Opsi Strategi

Dalam persaingan di bidang apapun terdapat juara, the number one, yang mutlak mengungguli semua pesaingnya. Mulai dari kejuaraan sekolah, pertandingan olahraga, persaingan bisnis, pemilihan umum, perang militer, hingga indeks peringkat negara di dunia seperti Human Development Index atau Global Competitiveness Index, semuanya menggambarkan dengan jelas, bahwa memenangkan persaingan berarti meraih keberhasilan, mencapai suatu hal yang relatif penting dan bernilai sebagai tujuan. Cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan ini disebut dengan strategi, sebuah game plan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Strategi, dengan demikian berfokus kepada tujuan penting dan bernilai yang ingin dicapai (goal-oriented), bercerita tentang masa depan dan bukan masa lalu (future-oriented), serta merupakan langkah yang akan ditempuh secara disiplin dan konsisten (action-oriented).
Prinsip-prinsip ini secara umum adalah sama penerapannya di semua aspek kehidupan. Mulai dari strategi Gerilya Pa…

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…

Empati Prabowo

Banyak yang tanya mengapa Prabowo. Alasan saya sederhana saja. Waktu itu akhir tahun 2008. Saat itu saya masih bekerja di Arbe Styrindo, sebuah perusahaan B2B Petrokimia yang pabriknya berlokasi di Cilegon, Banten. Saya berkantor di Jakarta beserta unit G&A lainnya tepatnya di Sampoerna Strategic Square.
Tahun-tahun itu partai Gerindra banyak beriklan di TV. Tidak sekalipun saya simpatik. Saya juga dengar pimpinannya Pak Prabowo adalah aktor intelektual kerusuhan mei 98, dalang penculikan mahasiswa, pernah lari ke Yordania, dsb. Tapi dalam salah satu kunjungan saya ke pabrik kami waktu itu, pandangan saya berubah perlahan. Kepala Security pabrik kami yang cukup berumur, Pak Agus, suatu kali menceritakan tentang Komandannya, Jenderal Prabowo. Kebetulan Pak Agus adalah salah satu pensiunan prajurit TNI yang pernah mengenal, melihat, dan merasakan langsung kepemimpinan Sang Jenderal.
Pak Prabowo dalam pandangan Pak Agus adalah sosok yang berani dan peduli kepada anak buahnya. Kalo P…