Langsung ke konten utama

Berkelas Dunia


Ada perbedaan mendasar antara perusahaan Global dengan perusahaan World Class. Perusahaan global berarti ada kegiatan operasi bisnis yang terjadi secara global, lintas negara, multi-national corporations, tidak memandang skala usaha. Asalkan sudah membuka kantor perwakilan di berbagai negara, perusahaan globallah ia. Sedang perusahaan kelas dunia berarti ada skala ekonomi bisnis tingkat dunia, kapitalisasi pasar yang sangat besar, dimana kebijakan strategis yang diambil perusahaan dapat mengubah lanskap industri dan kehidupan masyarakat dunia. Singkatnya, walau tak memiliki kantor perwakilan di berbagai negara namun pengaruhnya terasa ke seluruh dunia. 

Menurut Profesor Bartlett dari Harvard Business School, istilah perusahaan global itu sendiri sudah cukup usang, karena siapapun kini bisa berinteraksi secara global melayani pelanggan dari berbagai negara, kapanpun, dimanapun. Yang kemudian membedakannya dengan perusahaan kelas dunia adalah skala ekonomi bisnisnya. Apakah sebesar perusahaan-perusahaan dalam daftar Fortune 500 dan Forbes 2000 ataukah tidak. Atau dengan kata lain, sebuah perusahaan multi nasional yang melayani pasar di seluruh dunia tidaklah otomatis berarti perusahaan berkelas dunia. 

Reputasi kelas dunia inipun bukanlah suatu hal yang dapat direduksi maknanya sedemikian rupa secara legalitas formal terkait dengan berbagai pencapaian akreditasi, sertifikasi, dan kontestasi. Begitu sudah memiliki sertifikat ISO dari lembaga akreditasi, penghargaan Malcom Balridge National Quality Awards dari pemerintah, publikasi sebagai Employer of Choice dari majalah terkemuka, atau menerapkan sistem manajemen Lean Six Sigma dan Balanced Score Card misalnya, terkadang perusahaan merasa sudah berkelas dunia. Tak heran, beragam kegiatan dan ajang penganugerahan predikat legalitas formal inipun laku terjual. Aneka capaian atas akreditasi, sertifikasi, dan kontestasi ini lalu dipublikasikan masif di berbagai media komunikasi perusahaan, baik di dalam laporan tahunan, profil perusahaan, website resmi, hingga dipamerkan di meja dan ruang-ruang kantor. 

Padahal, banyak sekali perusahaan yang sangat baik reputasinya di dunia ini, bahkan tidak memiliki sedikitpun aneka predikat ini dan itu, sebanyak koleksi yang dimiliki oleh para perusahaan pemburu legalitas formal tersebut. Ada juga perusahaan yang memenangkan kontestasi sebagai perusahaan pilihan terbaik untuk berkarir, namun baik fresh graduates maupun pro hires yang melamar ke perusahaan ini, justru kalah jauh jumlah pelamarnya dengan yang melamar ke perusahaan serupa, yang kebetulan tidak pernah ikut dalam kontestasi tersebut.

Perusahaan adalah organisasi, layaknya organisme yang terus bertumbuh dan berkembang. Menjadi perusahaan berkelas dunia adalah sebuah proses yang panjang. Tidak ada jalan pintas apalagi kosmetika dalam hal ini. Esensi mutu dan kinerja tidaklah terletak pada selembar sertifikat atau sebuah plakat penghargaan

Mutu produk, pelayanan, teknologi, daya inovasi, kompetensi karyawan, kinerja kapitalisasi pasar, hingga jangkauan Corporate Environmental & Social Responsibility, adalah hasil dari kedisiplinan eksekusi terhadap rencana strategis yang telah ditetapkan. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh Alibaba, Coca-Cola, dan Toyota, yang masing-masing kini memiliki reputasi sebagai world class companies. Mereka beroperasi secara harmonis dalam satu gerak komando, rantai DNA, corporate governance, sistem manajemen yang standar; beradaptasi secara lincah fleksibel mengikuti ritme perubahan yang sedang dan akan terjadi; serta terus-menerus meningkatkan secara aktif kapabilitas seluruh karyawannya melalui berbagai kanal dan grup pembelajaran setiap hari. Secara sederhana dalam pandangan C.K. Prahalad, ketiga hal ini adalah Alignment, Agility, dan Intelligence. Semua hal tersebut di atas yang telah diulas mutlak harus dimiliki oleh perusahaan yang tengah membesarkan dirinya menuju reputasi perjalanan berliku: world class company, perusahaan berkelas dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Opsi Strategi

Dalam persaingan di bidang apapun terdapat juara, the number one, yang mutlak mengungguli semua pesaingnya. Mulai dari kejuaraan sekolah, pertandingan olahraga, persaingan bisnis, pemilihan umum, perang militer, hingga indeks peringkat negara di dunia seperti Human Development Index atau Global Competitiveness Index, semuanya menggambarkan dengan jelas, bahwa memenangkan persaingan berarti meraih keberhasilan, mencapai suatu hal yang relatif penting dan bernilai sebagai tujuan. Cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan ini disebut dengan strategi, sebuah game plan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Strategi, dengan demikian berfokus kepada tujuan penting dan bernilai yang ingin dicapai (goal-oriented), bercerita tentang masa depan dan bukan masa lalu (future-oriented), serta merupakan langkah yang akan ditempuh secara disiplin dan konsisten (action-oriented).
Prinsip-prinsip ini secara umum adalah sama penerapannya di semua aspek kehidupan. Mulai dari strategi Gerilya Pa…

Nikmat Tertinggi

Imaduddin Abdurrahim, Bang Imad, pernah menceritakan 3 tingkatan nikmat manusia yaitu nikmat hidup, nikmat kemerdekaan, dan nikmat hidayah.
Yang paling rendah adalah nikmat hidup. Bisa makan dan minum, sehat wal afiat, ganteng cantik rupawan, pasangan mesra serasi, bisnis pekerjaan sukses berhasil, tabungan melimpah, dsb itu nikmat yang paling rendah tingkatannya. Semuanya gratis. Semuanya mendapatkan. Semuanya tersedia di alam raya ini. Asal berupaya berusaha, hitungan matematisnya dipastikan mudah terwujud. Namun bila ada orang yang menodongkan pistol ke kepala kita, masuklah kita terdesak, terancam, disuruh pilih hidup atau mati, maka nikmat hidup pun kalah, turun derajatnya jauh sekali, sebatas peluru yang siap ditembakkan.
Kemudian bila kita memilih untuk hidup, namun tetap dengan ancaman di bawah todongan pistol, disuruh pilih hidup sebagai budak atau mati sebagai insan merdeka, maka kehidupan, sebagai budak di dunia ini, 24 jam dalam sehari, bisa diperintah apa saja, menolak bera…

Empati Prabowo

Banyak yang tanya mengapa Prabowo. Alasan saya sederhana saja. Waktu itu akhir tahun 2008. Saat itu saya masih bekerja di Arbe Styrindo, sebuah perusahaan B2B Petrokimia yang pabriknya berlokasi di Cilegon, Banten. Saya berkantor di Jakarta beserta unit G&A lainnya tepatnya di Sampoerna Strategic Square.
Tahun-tahun itu partai Gerindra banyak beriklan di TV. Tidak sekalipun saya simpatik. Saya juga dengar pimpinannya Pak Prabowo adalah aktor intelektual kerusuhan mei 98, dalang penculikan mahasiswa, pernah lari ke Yordania, dsb. Tapi dalam salah satu kunjungan saya ke pabrik kami waktu itu, pandangan saya berubah perlahan. Kepala Security pabrik kami yang cukup berumur, Pak Agus, suatu kali menceritakan tentang Komandannya, Jenderal Prabowo. Kebetulan Pak Agus adalah salah satu pensiunan prajurit TNI yang pernah mengenal, melihat, dan merasakan langsung kepemimpinan Sang Jenderal.
Pak Prabowo dalam pandangan Pak Agus adalah sosok yang berani dan peduli kepada anak buahnya. Kalo P…