Langsung ke konten utama

Captain Marvel


Dua milyar dolar! Inilah angka pendapatan terbesar dari film keluaran Marvel Studios tahun ini, Avengers: Infinity War. Selama pekan pemutarannya, film ini merajai hampir seluruh layar bioskop di dunia. Merupakan film terlaris di tahun ini, film superhero terlaris sepanjang masa, bahkan menduduki peringkat keempat film terlaris di dunia setelah Avatar, Titanic, dan Star Wars: The Force Awakens. Yang menarik, seperti halnya film keluaran Marvel Studios lainnya, di akhir film muncul sosok superhero baru yang akan rilis di tahun depan sebelum sequel Avengers: Infinity War ditayangkan, Captain Marvel.

Kita tidak akan berpanjang lebar membahas cerita atau tokoh superhero dalam semesta raya Marvel Comics ini. Fokus perhatian kita adalah pada apa yang dilakukan oleh Marvel Studios, LLC. yakni inovasi, produk baru, bisnis baru, selalu dikembangkan terus-menerus tanpa batas. Inilah letak keunggulan mereka yang sebenarnya dalam industri showbiz. No show no business. Karena memang secara alamiah, produk apapun, bisnis apapun, akan mengalami fase lahir, tumbuh berkembang, matang dewasa, kemudian perlahan tapi pasti menua dan layu.

Secara berturut-turut sejak 2008, Marvel Studios telah memproduksi sebanyak 20 film superhero terdiri dari: Iron Man trilogy, Thor trilogy, Captain America trilogy, 2 film untuk Ant Man, 2 film untuk Guardians of Galaxy, 3 film untuk Avengers, dan masing-masing 1 film untuk Hulk, Doctor Strange, Spiderman, serta Black Panther.  Mereka seperti tidak pernah kehabisan ide untuk mengatur kemunculan tokoh-tokoh superhero baru pada film produksi mereka, dalam bentuk prequel, sequel, ataupun standalone movie. Para penonton pun dapat menikmati film-film tersebut masing-masing tanpa harus mengikutinya secara berurutan. Selama 10 tahun produksi, tingkat keuntungan yang diraih rata-rata sebesar 70%, dengan persentase terendah adalah pada film Captain America: The First Avenger sebesar 40%. Singkatnya, sebelum pasar menjadi jenuh, selalu ada yang baru dari Marvel Studios.

Tanpa produk-produk baru, bisnis-baru baru, utamanya adalah inovasi, perusahaan dan organisasi akan mengalami stagnasi dan sangat berpotensi untuk mengalami regresi hingga akhirnya kematian. "Because the purpose of business is to create a customer, the business enterprise has two – and only two – basic functions: marketing and innovation. Marketing and innovation produce results; all the rest are costs. Marketing is the distinguishing, unique function of the business", ujar Peter Drucker. "A lot of companies have chosen to downsize, and maybe that was the right thing for them. We chose a different path. Our belief was that if we kept putting great products in front of customers, they would continue to open their wallets", ujar Steve Jobs. Dapat dibayangkan bila halnya demikian. Restoran tanpa menu-menu baru. Peritel tanpa toko-toko baru. Pabrik farmasi tanpa obat-obat termutakhir. Pengembang properti tanpa desain hunian tapak dan vertikal terbaru. Hotel dan penerbangan tanpa adaptasi pada layanan mobile apps dan otomatisasi.Dan seterusnya.

Tidaklah akan bertahan di dunia yang serba cepat berubah ini bila hanya menjalankan Business As Usual. Kegiatan riset terhadap produk dan bisnis baru pun harus selalu menjadi prioritas untuk menghasilkan inovasi yang memperkuat kinerja bahkan mengubah lanskap industri, seperti halnya kehadiran Android operating system, Netflix video on demand, Uber ride sharing, atau Tata Nano compact city car. Inovasi haruslah membudaya. Tidak hanya pada produk saja tetapi bahkan di semua lini, pada  proses bisnis, teknologi, dan tentu saja manusia sebagai aktor utama yang ada di belakangnya. Mindset baru, pemahaman baru, pengetahuan baru, keterampilan baru, serta perilaku baru. Yang lebih produktif, efektif, efisien, kreatif, memuaskan pelanggan, menguntungkan perusahaan dan organisasi. Coco Chanel pernah berkata "fashion changes, but style endures". Selalu saja ada ruangnya setiap hari, tidak lain dan tidak bukan: Inovasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mazhab Perubahan

Setelah satu tahun sudah berupaya maksimal sedemikian rupa untuk mencapai target-target yang ditetapkan di awal tahun kemarin, kini perusahaan dan organisasi menemui batas akhirnya. Seberapa baik the bottom line, profitabilitas, adalah inti dari semua target pencapaian satu tahun berjalan. Ada yang berhasil gemilang, ada yang biasa saja, ada pula yang tidak berhasil dan bahkan merugi. Belum lagi bila dibandingkan tingkat pertumbuhannya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tren pencapaian grup industri sejenis, dst. Namun pimpinan yang bijak tentu akan mencermatinya dengan kaca mata yang sedikit berbeda. Look on the bright side, inilah sejatinya kepemimpinan.

Walau Profit tak sesuai harapan di tahun ini, tetapi boleh jadi Process semakin baik, semakin efektif, semakin efisien. Mungkin juga Product semakin berkualitas, semakin sedikit cacatnya, semakin sedikit komplainnya, semakin diakui dunia, semakin inovatif. Atau yang terpenting People semakin produktif, semakin kreatif, sem…

Keraguan Hati

Syahdan, Haji Agus Salim tengah mengambil wudhu hendak salat zuhur. Sutan Sjahrir yg agak liberal kritis berkomentar. Kenapa engkau salat tuanku Haji Agus Salim? Apakah engkau pernah melihat Nabi, Tuhan, dan Akhirat? Kenapa kau melakukan sesuatu yg tak kau mengerti sama sekali? Agus Salim menjawab. Kenapa sutan mudik naik kapal laut? Kenapa sutan percaya sekali pada nakhoda nya akan diantarkan selamat sampai tujuan? Apakah sutan mengerti dan paham secara detil kapal laut bisa tak tenggelam di air walau beratnya berton-ton? Sutanpun tertegun dan menggangguk.

Berpuasa, zakat, salat, dll. ritual agama adalah wilayah metafisika. Di luar nalar dan logika manusia. Bagaimana quran dlm bahasa arab bisa dihapal ribuan ayatnya oleh anak kecil 5 tahun yg bukan berbangsa arab, bahkan yg tak bisa baca dan tulis dalam huruf alfabet. Dsb.

Ibadah/ritual yang kita lakukan itu pun bermacam-macam pula motivasinya. Dari buku Lentera Hati oleh Ustadz Quraish Shihab setidaknya ada 4:

Pertama, Ibadahnya pa…

Pelatih Hebat

Seringkali saya ditanya oleh klien seberapa besar dampak dari suatu pelatihan terhadap perubahan di tempat kerja mereka masing-masing? Kadang ada pula klien yang menambahkan, agar selepas pelatihan yang dilaksanakan nanti, kerja sama kekompakan tim mereka dapat menjadi lebih solid, kedisiplinan karyawan akan lebih baik, kinerja penjualan dan produktifitas bisa lebih tinggi, kemampuan keterampilan personil meningkat tajam, bahkan dapat timbul kepuasan kerja dan kebahagiaan kepada perusahaan. Dan selalu, sebagaimana yang saya pahami akan konsep perubahan, saya sampaikan secara pasti bahwa pelatihan yang dilaksanakan tersebut tidak akan berdampak banyak terhadap perubahan di perusahaan klien masing-masing. Ya benar. Itu yang selalu menjadi jawaban saya apa adanya. Kalau ada yang mengklaim bahwa dengan pelatihan semua hal yang disebutkan di atas dapat terwujud, silahkan saja, tapi saya tidak akan pernah gagah-gagahan mengklaim seperti itu.

Pelatihan, team building programs, outbond games…